Program MBG Tuai Kritik, Standar Gizi Dipertanyakan

Selasa, 03 Februari 2026

Foto:Ilustrasi

PELALAWAN,INDOVIZKA.COM-Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai salah satu program unggulan pemerintah pusat kini menuai sorotan di Kabupaten Pelalawan. 
Sejumlah sekolah mengeluhkan porsi dan kualitas makanan yang disalurkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dinilai jauh dari standar gizi seimbang sebagaimana pedoman pemerintah.

Keluhan tersebut tidak hanya datang dari pihak sekolah, tetapi juga memicu kekecewaan orangtua murid yang anaknya menjadi penerima manfaat program MBG.

Menurut sejumlah kepala sekolah, menu makanan yang diterima peserta didik tidak mencerminkan kecukupan gizi harian anak.Bahkan, dalam satu porsi atau ompreng makanan, siswa hanya menerima nasi putih, sayur bening, empat butir buah lengkeng, serta lauk tambahan dalam jumlah minim.

“Kalau melihat isinya, ini jelas tidak memenuhi standar gizi seimbang. Kami sudah lama memperhatikan hal ini, tapi belum ada perubahan,” ungkap salah seorang kepala sekolah yang enggan disebutkan namanya.

Ironisnya, kondisi tersebut terjadi hampir setiap hari. Akibatnya, banyak siswa enggan menghabiskan makanan, bahkan memilih tidak menyentuhnya sama sekali.

Keluhan serupa juga disampaikan para orangtua murid. Mereka menilai sebagian dapur penyedia MBG di Pelalawan bekerja tanpa memperhatikan kualitas bahan pangan, bahkan terkesan asal-asalan.

“Hampir setiap hari anak mengeluh. Katanya makanan kurang layak, rasanya tidak enak, dan porsinya sedikit. Sampai-sampai anak tidak mau makan,” ujar Santi (38), salah seorang orangtua murid.

Tak hanya soal porsi, orangtua juga menyoroti kualitas beras yang digunakan. Mereka menduga beras yang disalurkan bukan jenis premium sebagaimana standar yang ditetapkan dalam program MBG.

Atas kondisi tersebut, orangtua dan pihak sekolah mendesak pemerintah daerah serta instansi terkait untuk segera turun tangan melakukan pengawasan dan evaluasi. Mereka meminta agar SPPG maupun mitra dapur yang melanggar standar diberikan teguran hingga sanksi tegas.

Sorotan tajam juga datang dari kalangan aktivis. Arlail Reza, SH, mengingatkan agar program strategis nasional tersebut tidak diselewengkan menjadi ladang bisnis oleh pihak-pihak tertentu.

“Jangan jadikan program Makanan Bergizi Gratis ini sebagai ajang mencari keuntungan pribadi. Jika standar gizi diabaikan, yang dirugikan adalah anak-anak sebagai generasi penerus bangsa menuju Indonesia Emas,” tegasnya.

Menurut Arlail, persoalan ini kuat dugaan terjadi akibat kelalaian mitra dapur atau minimnya pemahaman terhadap petunjuk teknis MBG. Akibatnya, orientasi pelaksanaan program bergeser dari pemenuhan gizi anak ke semata-mata keuntungan ekonomi.

Ia pun mendorong evaluasi menyeluruh dan pengawasan ketat terhadap seluruh mitra penyedia makanan MBG di Kabupaten Pelalawan.

“Pemerintah tidak boleh tutup mata. Evaluasi total dan pengawasan kinerja SPPG harus segera dilakukan agar tujuan program ini benar-benar tercapai,” pungkasnya.