Dua Kali Tertunda Akibat Rasionalisasi, DPRD Soroti Buruknya Kondisi SDN 013 di Jantung Ibu Kota Pelalawan

Selasa, 09 Juni 2026

PELALAWAN,INDOVIZKA.COM– Buruknya kondisi sarana pendidikan kembali menjadi sorotan di Kabupaten Pelalawan. Ironisnya, kondisi memprihatinkan itu terjadi tepat di jantung ibu kota kabupaten, Kota Pangkalan Kerinci. SDN 013 Kelurahan Kerinci Timur hingga kini masih memiliki ruang belajar tambahan berdinding selembar triplek, sementara rencana pembangunan sekolah senilai Rp5 miliar disebut sudah dua kali tertunda akibat rasionalisasi anggaran.

Anggota DPRD Pelalawan, Ir. Rustam Sinaga, yang turun langsung meninjau kondisi sekolah tersebut mengaku prihatin sekaligus kecewa terhadap perhatian pemerintah daerah terhadap dunia pendidikan.

Menurut Rustam, kondisi SDN 013 Kerinci Timur sudah sangat tidak layak untuk menunjang proses belajar mengajar. Sekolah itu saat ini menampung sekitar 1.080 siswa dengan total 30 rombongan belajar (rombel). Namun, jumlah ruang kelas permanen yang tersedia hanya 12 lokal, ditambah 2 lokal darurat yang dibuat menggunakan dinding triplek.

Akibat keterbatasan fasilitas tersebut, pihak sekolah terpaksa memberlakukan sistem belajar tiga shift agar seluruh siswa tetap bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar.

“Ini sangat memprihatinkan. Di tengah Kota Pangkalan Kerinci, ibu kota Kabupaten Pelalawan, masih ada anak-anak belajar di ruangan berdinding triplek. Ini bukan di daerah terpencil, ini di pusat pemerintahan kabupaten,” tegas Rustam Sinaga.Selasa (9/6/2026)

Ia menilai kondisi tersebut menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Kabupaten Pelalawan, khususnya Dinas Pendidikan, karena persoalan mendasar seperti ruang belajar layak justru belum mampu dituntaskan.

“Bagaimana pemerintah berbicara peningkatan kualitas SDM dan pendidikan maju, sementara fasilitas dasar untuk belajar saja tidak terpenuhi? Anak-anak dipaksa belajar berdesakan dengan jumlah 35 sampai 40 siswa per kelas dan harus masuk bergantian hingga tiga shift,” ujarnya.

Rustam juga menyoroti proyek pembangunan sekolah yang disebut-sebut telah dianggarkan sekitar Rp5 miliar, namun dua kali gagal direalisasikan lantaran terkena rasionalisasi anggaran daerah.
Menurutnya, alasan rasionalisasi tidak seharusnya mengorbankan sektor pendidikan, apalagi menyangkut kebutuhan dasar siswa di ibu kota kabupaten.

“Pembangunan sekolah ini sudah dua kali tertunda akibat rasionalisasi.Pertanyaannya, kenapa pendidikan yang selalu jadi korban? Ini menyangkut masa depan anak-anak Pelalawan. Pemerintah harus punya skala prioritas yang jelas,” kritiknya tajam.

Ia meminta Bupati Pelalawan H. Zukri dan Dinas Pendidikan segera bergerak cepat menyelesaikan persoalan tersebut dengan memprioritaskan pembangunan ruang kelas baru permanen dan layak.

Rustam menegaskan, pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang tidak boleh diabaikan. Jika pemerintah serius ingin meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Pelalawan, maka kebutuhan dasar pendidikan harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar slogan.

“Jangan sampai visi peningkatan SDM hanya menjadi jargon. Fakta di lapangan menunjukkan masih banyak anak-anak kita belajar dalam kondisi yang jauh dari kata layak. Pemerintah harus segera bertindak, bukan hanya menunggu dan beralasan,” pungkasnya.