
Belasan ribu kasus HIV di Riau.(ilustrasi/int)
PEKANBARU, INDOVIZKA.COM– Temuan kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Provinsi Riau terus bertambah seiring semakin luasnya layanan skrining di fasilitas kesehatan.
Hingga triwulan I 2026, jumlah kumulatif kasus HIV yang tercatat sejak pertama kali ditemukan pada 1997 telah mencapai 11.523 kasus, dengan Kota Pekanbaru menjadi daerah penyumbang kasus terbanyak.
Peningkatan angka tersebut, menurut Dinas Kesehatan (Diskes) Riau, tidak hanya mencerminkan bertambahnya kasus baru, tetapi juga menunjukkan semakin efektifnya upaya deteksi dini yang kini menjangkau lebih banyak masyarakat.
Kadiskes Riau, Zulkifli mengatakan, tren peningkatan kasus HIV dalam beberapa tahun terakhir dipengaruhi oleh semakin luasnya akses pemeriksaan di puskesmas maupun rumah sakit.
Bahkan, dalam tiga tahun terakhir, rata-rata ditemukan sekitar 1.000 kasus baru setiap tahun di Provinsi Riau.
"Kasus HIV di Riau memang menunjukkan tren meningkat dalam beberapa tahun terakhir," kata Zulkifli.
Ia menjelaskan, semakin banyak masyarakat yang menjalani pemeriksaan membuat kasus yang sebelumnya tidak terdeteksi kini dapat diketahui lebih cepat sehingga pasien dapat segera memperoleh penanganan.
Menurut Zulkifli, pemeriksaan sejak dini memiliki peran penting dalam pengendalian penyebaran HIV.
Semakin cepat seseorang mengetahui status kesehatannya, semakin cepat pula terapi dapat dimulai.
Langkah tersebut tidak hanya membantu menjaga kualitas hidup pasien, tetapi juga menekan risiko penularan kepada orang lain.
Dinas Kesehatan Riau terus memperluas layanan skrining HIV, meningkatkan edukasi kepada masyarakat, serta memperkuat pendampingan bagi pasien yang menjalani terapi antiretroviral (ARV).
Data Dinas Kesehatan Riau menunjukkan Kota Pekanbaru masih menjadi daerah dengan jumlah kasus HIV tertinggi di provinsi tersebut.
Hingga triwulan I 2026, Pekanbaru mencatat 6.718 kasus, atau sekitar 58,3 persen dari total kumulatif kasus HIV di Riau.
Sementara itu, 11 kabupaten/kota lainnya masing-masing memiliki kontribusi kasus di bawah 10 persen dari total temuan di tingkat provinsi.
Tingginya angka di ibu kota provinsi dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk kepadatan penduduk, mobilitas masyarakat yang tinggi, serta akses layanan kesehatan yang lebih lengkap sehingga proses deteksi berlangsung lebih optimal dibandingkan daerah lain.
Dinas Kesehatan Riau mengajak masyarakat, terutama yang memiliki faktor risiko, untuk tidak ragu memanfaatkan layanan pemeriksaan HIV yang tersedia di puskesmas maupun rumah sakit.
Deteksi lebih awal dinilai menjadi langkah paling efektif untuk memastikan pasien segera mendapatkan pengobatan sehingga tetap dapat menjalani kehidupan yang produktif.
"Yang terpenting adalah melakukan pemeriksaan sedini mungkin bila memiliki faktor risiko serta menjalani pengobatan secara teratur bagi yang telah terdiagnosis. Dengan begitu, kualitas hidup pasien tetap baik dan penularan dapat dicegah," pungkasnya.