
PELALAWAN,INDOVIZKA.COM--Laga panas tersaji dalam ajang Open IPKPB Cup 2 H Zukri di Lapangan Sepakbola Bunut, Kecamatan Bunut, Kabupaten Pelalawan, Rabu (9/9/2026) sore. Pertandingan antara The Brond FC dan tuan rumah IPKPB berakhir dengan kontroversi setelah gol The Brond FC pada menit-menit akhir dianulir pengadil lapangan.
Pertandingan berlangsung sengit. Hingga penghujung laga, IPKPB masih unggul tipis 2-1 atas The Brond FC.
Situasi kemudian memanas ketika The Brond FC memperoleh tendangan bebas. Bola hasil tendangan tersebut berhasil bersarang di gawang IPKPB dan sempat disambut sebagai gol penyama kedudukan oleh para pemain dan pendukung The Brond FC.
Namun, gol tersebut kemudian dianulir setelah hakim garis (linesman) Miro Saputra mengangkat bendera dan menyatakan terjadi offside. Keputusan tersebut membuat kubu The Brond FC kecewa dan mempertanyakan keputusan pengadil lapangan.
Kontroversi semakin mencuat karena sejumlah penonton mengaku tidak melihat adanya posisi offside dalam proses terciptanya gol. Sejumlah rekaman video yang diambil penonton dan kemudian beredar juga menjadi bahan perdebatan di tengah masyarakat.
Kubu The Brond FC menilai keputusan tersebut sangat merugikan tim. Kapten The Brond FC, Maulana, bahkan menegaskan keyakinannya bahwa gol yang dianulir tersebut sah.
“Gol kami bersih, Bang. Enggak ada itu offside, jauh dari kata offside. Kalau Abang tidak percaya, tengok saja video-video yang beredar. Tak ada offside,” ungkap Maulana.Kamis (10/9/2026)
Keputusan tersebut pun menuai reaksi keras dari sebagian masyarakat Desa Petani yang menyaksikan pertandingan.
Salah seorang warga Desa Petani, Darmawan, meminta panitia turnamen untuk tidak mengabaikan persoalan tersebut dan mempertimbangkan pertandingan ulang apabila setelah dilakukan pemeriksaan memang ditemukan kesalahan dalam pengambilan keputusan.
“Kami minta pertandingan tersebut untuk diulang dan pertandingan yang akan datang di-stop dulu. Apabila tidak diulang, kami masyarakat Desa Petani akan datang ramai-ramai di acara final,” ujarnya.
Sementara itu, warga lainnya, Firdaus, menyampaikan kritik keras terhadap keputusan pengadil lapangan. Ia menilai keputusan yang dianggap merugikan salah satu tim tersebut harus menjadi perhatian serius panitia.
“Kami mengutuk keras keputusan wasit yang kami nilai tidak adil. Kalau memang terbukti melakukan kesalahan fatal, kami meminta evaluasi terhadap wasit tersebut,” tegasnya.
Dalam sepak bola, wasit dan hakim garis memegang peran penting dalam menjaga pertandingan tetap berjalan adil. Keputusan mereka menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pertandingan, termasuk dalam menentukan sah atau tidaknya sebuah gol.
Namun, ketika sebuah keputusan krusial terjadi pada menit-menit akhir dan langsung memengaruhi hasil pertandingan, transparansi serta evaluasi menjadi penting untuk menjaga kepercayaan seluruh peserta turnamen.
Apalagi, pertandingan tersebut merupakan bagian dari turnamen yang membawa nama besar Open IPKPB Cup 2 H Zukri. Panitia dituntut mampu memastikan seluruh pertandingan berlangsung profesional, sportif dan tidak meninggalkan persoalan yang dapat memicu konflik antartim maupun antarsuporter.
Karena itu, kontroversi gol The Brond FC layak mendapatkan penjelasan. Jika rekaman pertandingan memang tersedia, panitia bersama perangkat pertandingan dapat melakukan evaluasi terhadap momen tersebut secara objektif.
Bukan sekadar mencari siapa yang salah, tetapi memastikan keputusan dalam pertandingan benar-benar berdasarkan aturan sepak bola.
Sebab, kemenangan seharusnya ditentukan oleh permainan di lapangan, bukan oleh keputusan kontroversial pengadil yang kemudian meninggalkan tanda tanya di tengah pemain dan penonton.
Hingga berita ini ditulis, belum diperoleh keterangan resmi dari panitia Open IPKPB Cup 2 H Zukri maupun perangkat pertandingan terkait kontroversi dianulirnya gol The Brond FC tersebut.(Tim)