Pilihan
AWG Kibarkan Bendera Indonesia-Palestina di Gunung Raung
Pulanglah, Ali…
Hipmawan Tantang Pemprov Riau Turun kelapangan, Ini Bukan Lagi Kelalaian, Tapi Pengkhianatan terhadap Dunia Pendidikan
PELALAWAN,INDOVIZKA.COM– Himpunan Mahasiswa Pelalawan Pekanbaru (HIPMAWAN) melontarkan kritik pedas terhadap Pemerintah Provinsi Riau. Kamis(24/4/2025),menyusul insiden memalukan di Kabupaten Pelalawan, di mana siswa-siswi SMA kelas jauh harus mengikuti ujian di dalam masjid karena tidak memiliki ruang kelas.
Bagi HIPMAWAN, ini bukan hanya sekadar persoalan infrastruktur. Ini adalah cermin dari pembiaran sistematis dan kegagalan mutlak Pemprov Riau dalam menjalankan amanat konstitusi dan menjamin hak setiap warga negara atas pendidikan yang layak.
“Di mana Gubernur Riau ketika anak-anak harus menjawab soal ujian di atas sajadah, bukan di bangku sekolah? Di mana Dinas Pendidikan Provinsi ketika generasi muda harus belajar di tempat ibadah, bukan di ruang kelas?. Ini bukan sekadar kelalaian—ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap masa depan rakyat!” tegas Dhea Kurnia Insan Hasibuan, Kepala Divisi Hukum dan Advokasi HIPMAWAN.
HIPMAWAN menyebut kejadian ini sebagai simbol kegagalan total pemerintah provinsi dalam menjalankan fungsi pengawasan, distribusi anggaran, dan keadilan sosial. Mereka menilai Pemprov Riau terlalu sibuk mengejar pencitraan dan proyek-proyek jangka pendek yang “mengilap di permukaan tapi kosong di dalam”.Cetusnya.
"Kami tidak butuh seremoni seremonial. Kami tidak butuh pidato-pidato tentang visi Riau Emas atau Pelalawan Emas 2045. Jika hari ini saja anak-anak kami masih dibiarkan belajar di masjid karena tak ada gedung sekolah, mimpi-mimpi itu hanya omong kosong elit birokrat!”
HIPMAWAN menantang Pemprov Riau untuk turun langsung ke lapangan, meninjau lokasi-lokasi krisis pendidikan di Pelalawan.Berhenti menyembunyikan kegagalan mereka di balik laporan-laporan formal yang manis di atas kertas.
“Kami tahu data bisa dimanipulasi. Tapi fakta di lapangan tidak bisa dibohongi. Anak-anak kami tidak butuh statistik, mereka butuh meja, papan tulis, dan gedung sekolah!”
Lebih lanjut, HIPMAWAN menuntut audit anggaran pendidikan provinsi, serta mendesak DPRD Riau membentuk panitia khusus (Pansus),untuk menginvestigasi apakah ada penyalahgunaan anggaran yang menyebabkan ketimpangan pendidikan ini dibiarkan terus terjadi.
"Jika Pemprov tidak segera bertindak, maka kami akan turun ke jalan. Kami akan angkat isu ini ke tingkat nasional. Karena pendidikan bukan milik elite, pendidikan adalah hak rakyat, dan kami tidak akan diam melihatnya diinjak-injak," tegas Dea Kurnia Ihsan.
.png)

Berita Lainnya
Menunggu Kamsol, Rapat Paripurna DPRD Kampar Belum Dimulai
Harga Cabai di Rohul Makin Pedas Jelang Natal Dan Tahun Baru
Dinas Pendidikan Inhil Laksanakan Pelatihan Penyusunan Silabus Muatan Lokal PAUD dan PNF
Sebanyak 5.732 Orang Mendaftar PPPK Pemprov Riau
Gubri Tinjau Perbaikan dan Perlebaran Jalan Kampar-Rohul,
Enam Kelurahan di Kota Pekanbaru Ini Zona Merah Covid-19
Kejati Turunkan Tim ke Inhu Kumpulkan Bukti Korupsi Dana Kasbon Rp114 Miliar
Peserta KPDK Harus Jalani Rapid Test
Tingkatkan Mutu Pendidikan dan ASN Pelalawan Bupati Zukri Tandatangani MOU Kerjasama dengan Institut Bisnis dan Teknologi Pelita Indonesia
Batasi Pergerakan Masyarakat di Tengah Ancaman Covid-19, Polisi Tutup 4 Jalan di Pekanbaru Ini
Didistribusikan Pemkab Inhil, Penyerahan Paket Ramadhan Baznas Inhil Rp1,6 M Jadi Temuan
Zulmansyah Sekedang Paparkan Makna Tema HPN 2025 di Riau di TVRI