Korban Terus Bertambah, Polres Inhil, Pemkab dan BKSDA Riau Bergerak Perkuat Penanganan Gangguan Satwa Liar


TEMBILAHAN, INDOVIZKA.COM-Polres Indragiri Hilir (Inhil) bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Inhil dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Riau memperkuat sinergi dalam penanganan gangguan kera ekor panjang yang meresahkan masyarakat di Kecamatan Tembilahan dan Tembilahan Hilir.

Upaya tersebut dibahas dalam rapat koordinasi dan pengumpulan data yang digelar di Kantor Lurah Tembilahan Kota, Rabu (5/8/2026) sekitar pukul 14.45 WIB.

Rapat dihadiri Kapolres Inhil AKBP Donny Eko Listianto, S.H., S.I.K., M.H., perwakilan BKSDA Provinsi Riau Bambang S., Kabag Ops Polres Inhil AKP Dr. Irwanto, S.H., M.H., Kasat Intelkam AKP Jamaluddin, S.H., M.H., Kapolsek Tembilahan IPDA Ripal Indrawata, S.H., M.H., Camat Tembilahan Ary Syuria, S.E., M.Si., serta Lurah Tembilahan Hilir Budiono.

Dalam paparannya, Kapolres Inhil menyampaikan bahwa sejak 23 Juli hingga 5 Agustus 2026 tercatat 18 laporan korban akibat serangan kera ekor panjang terhadap warga di Kecamatan Tembilahan dan Tembilahan Hilir.

Korban mengalami luka gigitan dan cakaran di berbagai bagian tubuh, mulai dari kepala, tangan, kaki, punggung hingga pinggul. Sejumlah korban harus menjalani perawatan medis, termasuk tindakan penjahitan bahkan operasi.

"Serangan terjadi secara acak, baik di dalam maupun di luar rumah. Korban diserang saat tidur, makan, bermain, beraktivitas maupun ketika dalam kondisi lengah. Berdasarkan pemantauan, waktu serangan paling sering terjadi sekitar pukul 08.00 WIB, 09.00 WIB, 13.00 WIB hingga menjelang sore sekitar pukul 17.00 WIB," ujar Kapolres.

Kapolres menegaskan, Polres Inhil bersama TNI, pemerintah daerah dan instansi terkait telah melakukan berbagai langkah penanganan, mulai dari patroli, penyisiran lokasi, pengamanan masyarakat hingga koordinasi lintas sektor.

Sementara itu, Camat Tembilahan Ary Syuria mengatakan hingga saat ini diperkirakan telah terjadi sekitar 20 kali aksi penyerangan dengan total 18 korban.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah kecamatan memutuskan meliburkan sementara kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah sekitar lokasi terdampak hingga Sabtu. Kebijakan tersebut diambil untuk mengurangi risiko terhadap anak-anak, disertai imbauan kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan.

Ary juga mengungkapkan ciri-ciri kera yang diduga sebagai pelaku, yakni bertubuh besar, berwarna abu-abu kekuningan, berekor panjang, memiliki motif menyerupai kalung pada bagian leher, serta terdapat bekas luka di bagian pipi.

Di sisi lain, Dinas Pemadam Kebakaran telah melakukan identifikasi lokasi kemunculan satwa, penyisiran bersama lintas instansi, serta memasang perangkap di sejumlah titik yang diduga menjadi jalur lintasan kera. Berdasarkan hasil pengamatan, satwa tersebut cenderung menyerang saat korban sedang sendirian atau dalam kondisi lengah.

Perwakilan BKSDA Provinsi Riau, Bambang S., mengatakan pihaknya saat ini masih melakukan pengumpulan data dan identifikasi berdasarkan keterangan saksi maupun korban. Selain itu, BKSDA akan memasang perangkap khusus berbahan besi dan jaring ikan di lokasi yang diduga menjadi habitat serta jalur pergerakan kera.

Hasil rapat menyepakati peningkatan koordinasi seluruh instansi dalam penanganan gangguan satwa liar tersebut. BKSDA Provinsi Riau akan memimpin proses identifikasi, pemasangan perangkap dan evakuasi kera, sedangkan Polres Inhil bersama TNI serta instansi terkait tetap melaksanakan pengamanan dan penyisiran untuk mencegah bertambahnya korban.

Pemerintah kecamatan dan kelurahan juga diminta terus mengimbau masyarakat agar tetap waspada serta segera melaporkan kepada petugas apabila mengetahui keberadaan satwa yang diduga meresahkan tersebut.

Melalui sinergi seluruh pihak, proses penanganan dan evakuasi diharapkan dapat segera terlaksana sehingga situasi keamanan serta aktivitas masyarakat di Kecamatan Tembilahan dan Tembilahan Hilir kembali berjalan normal.






[Ikuti Indovizka.com Melalui Sosial Media]


Tulis Komentar