Pilihan
AWG Kibarkan Bendera Indonesia-Palestina di Gunung Raung
Pulanglah, Ali…
UU Pemilu Batal Direvisi, Demokrat Sebut Penyebabnya Adalah Sistem Demokrasi
JAKARTA (INDOVIZKA) - Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat Anwar Hafid mengungkapkan kenapa pihaknya bersama Fraksi PKS DPR RI kalah untuk memperjuangkan Revisi Undang Undang Pemilu.
Menurutnya, Fraksi Demokrat dan PKS kalah karena demokrasi Indonesia hari ini adalah sistem demokrasi yang memenangkan suara terbanyak.
"Sistem demokrasi yang tentu kita pahami semua, demokrasi dengan suara terbanyak. Sehingga mengalahkan rasionalitas. Misalnya, mengalahkan suara-suara yang menginginkan adanya sebuah perubahan tatanan dalam sistem domokrasi kita," kata Anwar dalam diskusi bertema "Konsolidasi Demokrasi dan Hukum yang Berkeadilan" di Media Center Parlemen, Senayan, Kamis (25/3/2021).
Dia menjelaskan, Fraksi Demokrat dan PKS memperjuangkan revisi UU Pemilu bukan tanpa alasan dan bukan karena sekedar kepentingan politik belaka. Melainkan sebagai bagian dari pilar demokrasi dan bagian dari konsolidasi demokrasi.
Dia mengungkapkan, ngototnya Fraksi Demokrat untuk merevisi UU Pemilu berkaca dari pengalaman yang terjadi pada Pemilu tahun 2019 lalu, dimana ada 800 lebih petugas KPPS yang meninggal dunia akibat kelelahan.
"Ini adalah sebuah bencana demokrasi yang sangat besar tentunya dengan berjatuhannya korban, 800 lebih KPPS kita yang meninggal karena kelelahan," ungkapnya.
Selain itu, dengan Pilkada yang disatukan dengan Pemilu di tahun 2024, ada 272 daerah yang memerlukan pejabat sementara.
"Kita melihat di situ, apakah nanti para pejabat yang akan ditempatkan oleh rezim sekarang yang kita tahu merupakan salah satu kontestan juga di 2024. Siapa yang bisa memastikan bahwa para pejabat ini akan berdiri dengan mengedepankan supremasi hukum dan kesamaan ketika wasit dan pemain sama-sama berdiri," terangnya.
Dijelaskannya, Indonesia sudah pernah mengalami demokrasi parlementer dan demokrasi terpimpin, kemudian hari ini mengklaim sebagai demokrasi Pancasila. Bahkan, lanjut dia, dulu mulai dari bupati, gubernur dan sebagainya ditunjuk oleh satu orang di Indonesia.
"Apakah kita mau itu terjadi lagi? Makanya salah satu konsolidasi demokrasi yang kita lakukan adalah bagaimana kita menata sistem Pemilu kita, desain Pemilu kita ke depan itu lebih baik. Sehingga kita harapkan output yang terjadi dari demokrasi itu benar-benar meningkatkan kualitas demokrasi kita," pungkasnya.***
.png)

Berita Lainnya
Abdullah Hehamahua Terima Jabatan Ketua Majelis Syuro Partai Masyumi untuk Selamatkan Umat Islam
Jelang Pilkada Kepulauan Meranti 2020, HM Adil Sudah Dapatkan Rekomendasi PKB
Baca Ikrar Kesetiaan, Ibas Sebut Kepemimpinan Demokrat yang Sah Hasil Kongres Estafet SBY ke AHY
Unik! Pelantikan PAC dan Ranting PKB di Teluk Belengkong Dimeriahkan Kesenian Kuda Lumping
Dani M Nursalam Miliki Bakat Politik dari Lahir, Berikut Perjalanan Karirnya
Syamsuddin Uti Nyatakan Maju di Pilkada Inhil 2024
Rangkaian Bakti Sosial Harlah PKB ke-22 Dapat Respon Positif Masyarakat
Marzuki Alie Ungkap Hanya di Demokrat Kader Berani Bully Senior
Di Kuala Gaung, Ferryandi Janjikan Perbaiki Kebun Masyarakat Agar Produksinya Meningkat
Hasil Survei Terbaru, Elektabilitas PKB Ungguli Golkar
LIPI nilai Kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah
Golkar: Safari Politik Airlanggga tak Terkait 2024