Pilihan
AWG Kibarkan Bendera Indonesia-Palestina di Gunung Raung
Pulanglah, Ali…
Komisi III DPRD Bengkalis Diskusikan Pengembangan Industri Tapioka untuk Tingkatkan Ekonomi Masyarakat
BENGKALIS, INDOVIZKA.COM - Komisi III DPRD Kabupaten Bengkalis mengadakan diskusi dengan Biro Perekonomian Setda Provinsi Riau mengenai potensi pengembangan industri tapioka sebagai upaya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya di Kabupaten Bengkalis, Kamis (23/01/2024).
Ketua Komisi III DPRD, Sanusi, menjelaskan bahwa pembahasan kali ini difokuskan pada pengembangan industri tepung tapioka, yang diharapkan dapat menjadi alternatif penghasilan bagi petani di Kabupaten Bengkalis, contohnya di Kecamatan Mandau, Pinggir, Bathin Solapan, dan Talang Muandau. Sanusi menyoroti bahwa meskipun produksi ubi kayu di daerah ini cukup besar, sekitar 10.000 ton per tahun, namun jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan industri yang mencapai 40.000 ton per tahun.
"Pengelolaan ubi kayu di daerah ini masih bersifat tradisional, sehingga hasilnya terbatas. Kami berharap dengan adanya pengembangan industri tapioka, masyarakat dapat lebih bersemangat dalam menanam ubi," ujar Sanusi. Ia juga menambahkan bahwa komoditas ini diharapkan menjadi salah satu alternatif selain kelapa sawit, untuk meningkatkan pendapatan petani.
Sanusi mengungkapkan beberapa tantangan yang dihadapi petani, seperti fluktuasi harga ubi yang tidak stabil, harga pupuk yang tinggi, serta gangguan dari hewan liar seperti gajah yang merusak lahan pertanian. Oleh karena itu, perhatian lebih terhadap petani ubi sangat dibutuhkan untuk menciptakan stabilitas ekonomi di kawasan tersebut.
Indri, perwakilan dari Biro Perekonomian Provinsi Riau, menambahkan bahwa meskipun potensi ubi kayu cukup besar, produksi yang ada masih terbatas. Sebagai solusi, beberapa daerah di Riau, termasuk Bengkalis, sebelumnya telah mendapat bantuan untuk pengembangan lahan ubi, namun tidak ada kelanjutan yang signifikan.
Fakhtiar Qadri, anggota Komisi III, juga menyoroti pentingnya regulasi yang jelas terkait produksi dan harga ubi. Tanpa adanya kepastian hukum, baik masyarakat maupun perusahaan kesulitan menentukan harga dan jumlah produksi yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Sementara itu, H. Khairi, Kabag Ekonomi Kabupaten Bengkalis, menjelaskan bahwa kebutuhan bahan baku tapioka untuk industri seperti Indah Kiat masih sangat besar dan sulit dipenuhi. Ia menekankan perlunya solusi untuk memastikan petani dapat memproduksi ubi dalam jumlah yang cukup, karena perusahaan siap membeli hasilnya.
Menutup diskusi, Sanusi menyarankan perlunya kajian yang lebih mendalam terkait produksi tapioka, termasuk jumlah bahan baku yang tersedia, kapasitas lahan yang dapat digarap, serta pembangunan pabrik untuk mendukung industri ini. Harapannya, produksi tepung tapioka dapat menjadi sumber ekonomi baru yang menguntungkan bagi masyarakat Kabupaten Bengkalis. (hms/demo).
.png)

Berita Lainnya
Kasus Covid-19 Naik Lagi, Dewan Riau Minta Belajar Tatap Muka Ditunda
Ketua DPRD Inhil Secara Resmi Buka Turnamen Bima Sakti Cup 2024
Rachmat Gobel Sebut APBN Fokuskan pada PEN daripada Biayai Kereta Cepat
Bahas Soal Listrik dan Tambang di Riau, Anggota DPRD Riau Konsultasi ke Komisi VII DPR RI
DPRD Bengkalis Sampaikan Saran dan Masukan terhadap LKPJ Bupati TA 2023
DPRD Usulkan 5 Nama Timsel KPID ke Pimpinan
Anggota DPRD Riau Periode 2019-2024 Diberi Waktu Satu Bulan Kembalikan Fasilitas yang Dipinjamkan
Mangkir Lagi dari Rapat, Dewan Sebut Kadis Perkim Inhil 'Mencla-Mencle'
DPRD Riau Minta Penerus Pj Gubernur Lanjutkan Program Prioritas
DPRD Riau Minta Pertamina Pastikan Stok BBM Aman Jelang Idul Fitri
Wakil Ketua DPRD Riau Soroti PAD Belum Capai Target, Porwil Terancam Pelaksanaannya
Jalan di Dumai Sering Hancur, Anggota DPRD Riau Nilai Tidak Ada Perhatian Pemerintah Pusat