Pilihan
AWG Kibarkan Bendera Indonesia-Palestina di Gunung Raung
Pulanglah, Ali…
Guru SMPN 3 Intimidasi Siswa Karena Terlambat Bayar Uang Seragam Sekolah
PELALAWAN,INDOVIZKA.COM- Dunia pendidikan kembali tercoreng oleh ulah seorang oknum guru di SMP Negeri 3 Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan.Seorang siswa baru dilaporkan mengalami tekanan psikologis serius setelah mendapatkan perlakuan tidak pantas dan bernada intimidatif dari salah satu guru, hanya karena terlambat membayar biaya seragam dan transportasi sekolah.
Insiden ini bermula saat guru bernama Refi menghubungi orang tua siswa melalui WhatsApp, menagih pembayaran uang seragam sekolah sebesar Rp. 1.670.000 dan transportasi sebesar Rp. 200.000. Total keseluruhan yang harus dibayar yakni Rp1.870.000. Namun karena kondisi ekonomi keluarga yang sedang sulit, ibunda siswa menyampaikan bahwa ia belum dapat melunasi biaya tersebut karena masih menunggu gaji sang suami cair.
Alih-alih menerima penjelasan dengan empati, sang guru justru mengeluarkan pernyataan bernada kasar dan menyinggung perasaan orangtua. “Kalau gak sanggup, keluarkan aja anak itu. Masih banyak anak-anak lain yang mau sekolah di sini,” ujar Bu Refi, sebagaimana disampaikan oleh orang tua siswa kepada media.Selasa(22/7/2025)
Ucapan tersebut sontak membuat keluarga terpukul. Tak hanya berhenti di percakapan pribadi, bentuk pelecehan verbal juga terjadi di hadapan siswa lain. Saat siswa dipanggil menggunakan pengeras suara, guru tersebut kembali mempermalukan anak dengan ucapan.
“Kamu ini masih menumpang di 7A. Mana ibumu, kenapa belum juga datang?” tekan guru tersebut kepada anak didiknya.
Sang anak yang dalam kondisi tertekan mencoba menjawab bahwa ibunya tidak bisa hadir karena kendala transportasi. Namun jawabannya dibalas dengan kalimat yang lebih tajam, “Gak bisa seperti itu. Kamu itu di sini masih menumpang.” Ironisnya, ucapan itu bahkan diulang kembali oleh sang guru saat masuk ke kelas, di hadapan seluruh siswa, tanpa sedikit pun mempertimbangkan dampak psikologis terhadap si anak.
Tindakan ini jelas mencerminkan sikap yang sangat tidak layak dari seorang pendidik. Alih-alih membimbing dan melindungi, guru justru menjadi sumber tekanan dan rasa malu yang mendalam bagi anak didiknya.
Ayah siswa yang mendengar langsung rekaman percakapan dan melihat dampak psikologis terhadap anaknya segera mendatangi sekolah untuk meminta klarifikasi.
“Kami sangat kecewa dan marah. Seorang guru seharusnya punya akhlak mendidik, bukan merendahkan anak kami hanya karena belum bisa bayar uang seragam. Pendidikan bukan milik orang mampu saja!” tegas sang ayah.
Saat ini, anak tersebut mengalami trauma mendalam dan takut kembali ke sekolah. Padahal ia baru satu minggu menjalani masa awal sebagai siswa baru. Rasa terasing, malu, dan tidak diterima telah meruntuhkan semangat belajarnya.
"Kamu tidak bisa lagi Sekolah disini, karena orangtua kamu tidak sopan," tutup sang guru kepada anak sebelum pergi meninggalkan ruang guru.Cetusnya.
.png)

Berita Lainnya
Cegah Kebakaran Saat Lebaran, DPKP Pekanbaru Himbau Masyarakat Padamkan Sambungan Listri
Bupati Pelalawan Tinjau Drainase Di Jalan Ade Irma Suryani BTN Lama
Dorong Kemitraan Usaha Besar dengan UMKM, HIPMI Apresiasi DPMPTSP Inhil
Tahu Anaknya Tewas Terbakar, Pasutri di Pelalawan Histeris Lalu Pingsan
Pemprov Riau Tambah 151 Nakes untuk Antisipasi Klaster Pilkada
108 mahasiwa baru Sekolah Tinggi Ilmu Kesehstan (Stikes) Husada Gemilang tahun ajaran 2022/2023 Ikuti kegiatan Masa Orientasi Kampus (MOKA).
Melanggar Protokol Kesehatan Covid-19, Warga Inhil Akan Didenda Rp100 Ribu Hingga Rp1 Juta
Dapatkan Persetujuan KASN, Pj Bupati dan Pj Sekda Evaluasi 15 Pejabat di Kampar
Ada Intimidasi Saksi Kasus Dana Rutin Bappeda Siak, Alasan Kejati Tahan Yan Prana
Pemburu Babi di Pelalawan Ditemukan Tewas, Tubuhnya Penuh Luka Gigitan Binatang
30 Murid SD di Meranti Keracunan, Diduga Usai Jajan Minuman Kemasan di Kantin
Polling Ditutup, 74,3 Persen Pemilih Tak Puas 2 Tahun Kinerja Catur Sugeng Pimpin Kampar