Kasus Positif Corona di Riau Capai 11.096 Orang, 40 Persen dari Kontak Erat

Mimi Yuliani Nazir

PEKANBARU  - Kasus pasien terkonfirmasi positif Covid-19 di Provinsi Riau selalu fluktuatif. Seperti hari ini, terdapat penambahan 281 kasus dari sebelumnya 181 kasus. Sehingga saat ini kasus positif di Riau sudah mencapai 11.096 kasus. Sedangkan pasien yang sembuh bertambah sebanyak 102 orang, total 6.705 pasien yang sembuh.

Dari total pasien yang terkonfirmasi 11.096 kasus, yang isolasi mandiri sebanyak 2.996 orang, rawat di rumah 1.119 orang, sembuh 6.730 orang dan 251 meninggal dunia, setelah bertambah 2 orang yang meninggal dunia.

Sedangkan untuk kasus suspek yang isolasi mandiri berjumlah 8.370 orang, isolasi di RS berjumlah 278 orang. Dan selesai Isolasi berjumlah 31.106 orang, meninggal berjumlah 126 orang. Total suspek berjumlah 39.880 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir mengatakan, turun-naiknya penyebaran Covid-19 di Riau karena banyaknya kontak erat pasien positif sebelumnya.

Masih kata Mimi, sejauh ini kasus positif dari hasil swab kontak erat mencapai 40 persen. Termasuk pasien yang awalnya suspek, setelah dilakukan swab hasilnya positif.

"Jadi selama ada kontak erat pasien positif sebelumnya, hasilnya akan terus bertambah. Memang terjadi penurunan dan naik, terutama kontak erat itu mencapai 40 persen. Ditambah lagi orang yang suspek juga banyak yang positif," terangnya.

Selain itu, lanjut Mimi, untuk yang melakukan swab mandiri, baik itu dari perusahaan dan perkantoran atau instansi lainnya, yang terkonfirmasi positif angkanya mencapai 30 persen. Dan swab mandiri ini juga dari kontak erat pasien yang positif sebelumnya, baik yang dari Orang Tanpa Gejala (OTG) maupun yang bergejala.

"Yang swab mandiri mencapai 30 persen, dan itu dilakukan oleh pribadi, dan perusahaan. Selain itu yang melakukan isolasi mandiri, juga belum efektif dilakukan oleh Pemerintah Kota Pekanbaru, dan daerah lainnya," jelasnya.

Disinggung mengenai, masih lemahnya penanganan Covid-19 di Kota Pekanbaru, yang sampai saat ini masih terbanyak penyebaran Covid-19, bahkan mendapat kritikan dari pemerintah pusat soal Pembatasan Sosial Berskala Mikro (PSBM) tidak berjalan.

Menurut Mimi, karena pengawasan dari Pemko sendiri tidak berjalan efektif. Pelaksanaan di lapangan juga tidak begitu berjalan dengan baik, terutama pembiaran terhadap pasien isolasi mandiri dirumah yang tidak diawasi.

"Kalau protokol kesehatannya tidak dilakukan pengawasan, tidak ada pelaksanaan di lapangan ya tidak efektif juga. Dan dari laporannya, isolasi mandirinya kan tidak ada pengawasan, karena itulah diperlukan ketegasan dari Pemko, untuk menempatkan pasien yang OTG positid diisolasi di tempat yang telah disiapkan pemerintah," paparnya.

"Dari laporan Pemko, mengenai evaluasi penanganan Covid-19, karena isolasi di rumah masih banyak, kenapa isolasi mandiri masih banyak, karena belum ada aturan yang mengharuskan yang OTG harus diisolasi di tempat yang disiapkan pemerintah. Maka diperlukan Perwako, dan teman-teman di Puskesmas merasa bekerja secara sendiri, harus ada yang membantu oleh camat, kelurahan dan lainnya. Sebagusnya ditempat yang disiapkan pemerintah, kan belum maksimal sesuai protokol kesehatan," tukasnya.






[Ikuti Indovizka.com Melalui Sosial Media]



Tulis Komentar