Pilihan
AWG Kibarkan Bendera Indonesia-Palestina di Gunung Raung
Pulanglah, Ali…
Ada 3.229 Balita di Siak Idap Stunting
SIAK (INDOVIZKA) - Stunting merupakan gangguan pertumbuhan fisik pada anak. Bertubuh pendek merupakan salah satu indikasi dari anak dengan kondisi stunting.
Selain ditandai dengan bertubuh pendek, stunting juga ditandai dengan terganggunya perkembangan pada otak anak. Sehingga anak tumbuh kembang dalam kondisi yang tidak normal atau mengalami gangguan pertumbuhan fisik dan mental.
Di Kabupaten Siak, stunting masih menjadi ancaman serius bagi anak-anak. Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Siak, Wan Yunus mengatakan angka anak yang mengidap stunting tergolong cukup tinggi yakni mencapai 3.229 Balita.
"Kecamatan Kandis menjadi yang terbanyak, ada 721 Balita, disusul Kecamatan Siak 318 Balita dan Kecamatan Kotogasib sebanyak 316 Balita," kata Wan Yunus, Senin (22/3/2021).
Ia memaparkan, standar target WHO prevalensi stunting kurang dari 20 persen. Sementara secara nasional menargetkan turun 3 persen per tahun.
Sedangkan prevalensi untuk Provinsi Riau tahun 2018 sebesar 27,4 persen, sementara untuk Kabupaten Siak sendiri pada tahun 2019 prevalensi stunting sebesar 27,79 persen.
"Peningkatan ini menjadi tanggungjawab kita bersama, jadi tugas bersama untuk mengurangi stunting di Kabupaten Siak," ujarnya.
Namun, Pemkab Siak terus mengupayakan penurunan angka stunting. Pemkab Siak juga memfokuskan program percepatan penurunan stunting di wilayahnya tetap menjadi prioritas meski dalam pandemi Covid-19.
Untuk itu, Bappeda Siak menggelar sosialisasi percepatan penurunan dan pencegahan stunting sekaligus program penetapan lokasi fokus intervensi penurunan stunting.
Program itu ada dua intervensi, pertama intervensi gizi spesifik untuk mengatasi penyebab langsung dan intervensi gizi sensitif untuk mengatasi penyebab tidak langsung.
Intervensi gizi spesifik merupakan kegiatan yang langsung mengatasi terjadinya stunting seperti asupan makanan, infeksi, status gizi ibu, penyakit menular dan kesehatan lingkungan. Intervensi ini umumnya diberikan oleh sektor kesehatan.
Intervensi gizi sensitif mencakup peningkatan penyediaan air bersih dan sarana sanitasi, peningkatan akses dan kualitas pelayanan gizi dan kesehatan, Peningkatan kesadaran, komitmen dan praktik pengasuhan gizi ibu dan anak, serta peningkatan akses pangan bergizi.
Wan Yunus berharap, program tersebut bisa menjadi langkah jitu untuk menekan angka stunting di Siak, dan diharapkan dapat membangun komitmen publik dalam kegiatan penurunan stunting secara terintegrasi. Sehingga bisa mencapai target zero stunting pada 2022 mendatang.
.png)

Berita Lainnya
Lantik Tiga Kepala Desa PAW, Bupati Zukri tekankan untuk fokus pada Pengentasan Kemiskinan dan Pelayanan Masyarakat
Seluruh Makanan Tamu Undangan Sidang Paripurna Milad Inhil ke 56 Diperiksa Tim Medis
Jelang Ramadan, Harga Bahan Pokok di Siak Masih Stabil
Penuh Haru, PLN dan IWO Riau Bantu Nurjanah di Tengah Perjuangan Melawan Tumor
Bupati Kasmarni Hadiri Kenal Pamit Kapolda Riau: Selamat Datang Pak Hery Herjawan dan Selamat Bertugas Ditempat yang Baru Pak Mohammad Iqbal
Dilaporkan ke KPK, M Noer Mantan Sekda Pekanbaru Bungkam
Pelanggar Prokes di Kampar Sidang di Tempat, Dendanya dari Rp10 Ribu Hingga Sanksi Sosial
Breaking: Israel Bombardir Suriah, Ledakan Besar Terdengar di Damaskus
Dumai Raih Penghargaan BerAKHLAK dari ACT Consulting International
Okejek Mulai Beroperasi di Kota Tembilahan
Mayoritas ASN Pemko Pekanbaru Sudah Dapat THR
28 Korban TPPO Dikembalikan ke Daerah Asal