Pilihan
Menelusuri Aliran Uang Bayaran Toilet di SPBU Pertamina
JAKARTA (INDOVIZKA) - Nanang bukan nama sebenarnya. Sejak 2016, dia bekerja sebagai operator di SPBU Pertamina milik swasta. Lokasinya berada di Jalan Haji Mulyadi Joyomartono, Margahayu, Kota Bekasi. Sementara pemiliknya adalah orang Yogyakarta.
Selain sebagai operator SPBU, belakangan dia juga merangkap sebagai petugas kebersihan. Di luar jam kerja, dia menyibukkan diri membersihkan fasilitas umum seperti musala dan toilet.
Di tempatnya bekerja, memang tidak ada petugas khusus dipekerjakan untuk membersihkan toilet. Itulah yang kemudian membuat dirinya mengambil alih. Dan tentu, sudah mendapatkan izin langsung dari pengawas SPBU.
- Pemerintah Teguhkan Semangat Reformasi Lewat Perlindungan Kebebasan Pers
- Ketua Tim Jargas Sebut Kado Ultah ke-26 Pelalawan Dapat Tambahan Kuota 3.076 Jaringan Gas dari APBN
- Aktif Kembali Bumdes Jaya Bersama setelah Fakum Hampir 7 Tahun
- Wabup Husni Tamrin Hadiri Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Lancang Kuning 2025
- Pemerintah Kabupaten Pelalawan Melaksanakan Operasi Pasar Murah Jelang Idul Fitri 1446 H
Secara kasat mata, tidak ada tulisan mengenai tarif dikenakan untuk penggunaan toilet tersebut. Hanya saja terdapat kotak amal besar. Di atasnya ada wadah kotak plastik berisikan pecahan logam Rp1.000 dan uang kertas Rp2.000. Pesan ini tersirat. Seakan menunjukkan siapapun telah menggunakan toilet harus mengeluarkan uang 'kebersihan'.
Nanang tidak mematok. Apalagi, meminta uang secara langsung kepada para konsumen menggunakan fasilitas umum tersebut. Jika ada dikasih, diterima. Namun jika tidak, bukan tanpa masalah. Mengingat, dia juga tidak selalu menunggu di toilet tersebut.
Hanya saja, uang 'sukarela' terkumpul dari toilet menjadi tanggung jawab Nanang. Secara keseluruhan semua dikelola. Dalam satu hari paling banyak bisa mencapai sekitar Rp100.000 lebih.
Jika diasumsikan. Dalam satu hari pemasukan uang 'sukarela' sebesar Rp100.000. Maka jika dikalikan 30 hari atau satu bulan bisa mencapai Rp3.000.000. Namun, uang tersebut tidak sepenuhnya masuk kantong pribadi. Sebanyak 80-90 persen dipergunakan untuk alat-alat kebersihan.
"Uangnya untuk beli kaya pewangi, rinso, sabun. Selebihnya buat kopi," katanya bercerita kepada merdeka.com, Selasa (23/11).
Uang-uang tersebut tidak dikelola dalam satu bulan. Biasanya, pemasukan per hari itulah yang setiap harinya digunakan untuk keperluan kebersihan dan uang makan. Misal, jika dalam satu hari ada pemasukan Rp100.000, maka Rp80.000 akan digunakan untuk alat kebersihan. Sisanya, baru masuk ke kantong.
"Paling ada lebihnya Rp10.000 atau Rp20.000 di kantongin," ujarnya.
.png)

Berita Lainnya
Laporan Kekayaan Nugroho Dirut Telkomsel Tembus Rp84 Miliar, Berikut Rinciannya!
Siang Ini 32 Kelurahan di DKI Jakarta Digenangi Banjir Setinggi 150 Cm, Ratusan Warga Mulai Mengungsi
Disebut Terlibat ISIS usai Video Tersebar, Mantan Sekretaris Umum FPI: Suka-suka Mereka Lah
Awali Tahun 2024, KARA Kembali Kantongi 2 Penghargaan Dari Top Brand
Mirip Cara China, Mengapa Dana Desa Belum Berjalan Optimal Atasi Kemiskinan?
Ingin Ada yang 'Beda' Lebaran Tahun Ini? Menkes Beberkan Syaratnya
Pemerintah Hapus Cuti Bersama Natal-Tahun Baru, Warga Diimbau Tak Pulkam
KPK Tetapkan Menteri Sosial Juliari Tersangka Bansos Covid-19
Wow, Ternyata Hutang Pemerintah Rp 48,46 Triliun ke PLN
Presiden Prabowo Dijadwalkan Hadiri May Day 2026 dan Tegaskan Penguatan Perlindungan Buruh
Waspadai Varian Omicron, Kapolri Minta Vaksinasi Dipercepat dan Prokes Dipatuhi
Pertamina Siap Terapkan Sistem Pembayaran Non Tunai, Beli Bensin Full Tank Tak Bisa Lagi