Pilihan
Ini Penjelasan Kadiskes dan Kadis LHK Soal Limbah Covid-19 Riau
PEKANBARU - Sejak Pandemi Covid-19 di Provinsi Riau, pada awal bulan Maret 2020 lalu, hingga saat ini. Sampah medis bekas penggunaan penanganan pasien diseluruh Kabupaten dan Kota di Riau, telah ditangani secara baik.
Dalam penanganan limbah medis Covid-19 di Riau ini, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir, Ahad (28/6/2020) mengatakan, yang mengurusnya adalah pihak ketiga.
Mimi mencontohkan, untuk sampah medis di RS Awal Bros. Pihak ketiga yang mengurus nya adalah PT Langit Biru.
- Banjir Setiap Tahun di Pelalawan, DPRD Riau Minta Pemerintah dan PLN Bertindak
- Pemprov Riau Diminta Serius Berantas Judi Online
- APBD 2025 Diisukan Defisit, Fraksi PKB: Tak Masalah Jika Demi Kepentingan Masyarakat
- Tabligh Akbar di Tembilahan, UAS Sampaikan Dukungan untuk Paslon Bermarwah dan Fermadani
- Targetkan Rampung Akhir November, DPRD Riau Percepat Pembahasan RAPBD 2025
''Langit biru ini merupakan anak perusahaan RS Awal Bros, lebih tepatnya merupakan transporter,'' kata Mimi.
Artinya, sebut Mimi, kebijakan pemusnahan sampah medis Covid-19 ini ada di majemen rumah sakitnya.
Namun, meski begitu, setiap sampah medis Covid-19 di Riau, diharuskan selalu dibuang ke luar Riau.
''Setahu saya, sesuai aturan sampah medis selalu dibuang ke Jakarta. Karena sesuai kesepakatan, disana (Jakarta, red) yang ada tempat pemusnahannya,'' ungkap Mimi.
Sedangkan, untuk sampah di rumah sakit lain, seperti contoh di RSUD Arifin Achmad, sama halnya dengan rumah sakit yang lain yang memakai pihak ketiga.
''Prosesnya sama, kalau di RSUD AA, coba tanya langsung direkturnya. Saya rasa sama, mereka juga pakai pihak ketiga dan harus dibuang keluar Riau,'' sebut Mimi.
Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Riau, M Murod, di posko Gugus Tugas Provinsi Riau, di pada bulan Mei 2020 lalu, sebanyak 18 ton limbah infeksius telah dimusnahkan.
Dari hitung-hitungan pihaknya, untuk limbah infeksius dari 48 rumah sakit rujukan Covid-19 di Riau mengalami peningkatan yang signifikan.
Murod memaparkan, awalnya hanya tiga ton di bulan Maret per bulan. Kemudian, ada peningkatan menjadi delapan ton di bulan April, dan 18 ton di bulan Mei.
''Itu total yang sudah dimusnahkan,'' kata Murod.
Dari limbah infeksius yang termasuk limbah B3 ini, menurut Murod, peningkatannya tidak hanya berasal dari rumah sakit saja, tetapi juga dari masker sekali pakai yang digunakan oleh masyarakat.
Artinya, masker yang sekali pakai ini juga termasuk limbah infeksius. Sehingga menjadi banyak, digabung sampah dari rumah sakit dan bekas masyarakat.
''Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menggunakan masker, limbah infeksius juga tentunya akan meningkat,'' ujarnya.(vie/mcr)
.png)

Berita Lainnya
Melonjak, 52 Hotspot Terdeteksi di Riau
4 Jalur masuk Dalam Semifinal Festival Pacu Jalur di Kuansing 2023
Sengaja Membakar Lahan, Warga Pulau Burung Diamankan
BMKG: 35 Hotspot Terpantau di Sumatera, Suhu Udara Riau Terik hingga 34 Derajat Celcius
Dishub Riau Pasang Rambu-Rambu Peringatan di Daerah Rawan Kecelakaan
Disbun Inhil Tindaklanjuti Tuntutan Masyarakat Desa Tanjung Simpang Terhadap PT THIP
Hari ini Hujan Disertai Petir Akan Guyur Riau
Sumatera Dikepung 59 Titik Panas, 11 Berada di Riau
Bantah Berikan Izin Pemkab Meranti Gadaikan Aset, Ini Penjelasan Kementerian Keuangan
346 Desa di Riau Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan
Tidak Miliki Izin, Kabel dan Tiang Tumpu Fiber Optik di Pekanbaru Terancam Diputus
Pelajar di Desa Kuala Sebatu Tempuh Jalan Ekstrim Untuk Dapatkan Pendidikan