Pilihan
Rusia-Ukraina Perang, Ini Dampaknya bagi Indonesia
INDOVIZKA.COM - Konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina tidak hanya berdampak secara fisik, tapi juga berpengaruh ke perekonomian global. Hal ini terjadi karena ekonomi global saling terhubung satu sama lain.
Invasi yang dilakukan Rusia terhadap Ukraina akan menghambat pemulihan ekonomi akibat pandemi covid-19 di kawasan Eropa dan global.
Lantas, dampak ekonomi apa saja yang akan terjadi akibat ketegangan ekonomi kedua negara tersebut?
- Meskipun Dihadang Israel, 80.000 Jemaah Palestina Tetap Salat Jumat di Masjid Al-Aqsa
- Aleix Espargaro Juarai MotoGP Inggris 2023
- WHO Peringatkan Setengah Populasi Dunia Berisiko Terjangkit DBD
- Declan Rice Resmi Bergabung Dengan Arsenal.
- Akan Meninggal Livepool, ini 6 Kandidat Calon Pengganti Jordan Henderson
Pakar hubungan internasional menyatakan dampak perang di Eropa Timur bisa terasa sampai Indonesia.
"Secara fisik, dampaknya mungkin tidak terasa, tapi secara ekonomi ini bisa mengganggu perdagangan internasional, terutama sektor energi dan minyak," kata pakar hubungan internasional dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Riza Noer Arfani, Kamis (24/2/2022).
Riza, yang merupakan dosen HI Fisipol UGM, punya bidang keahlian dalam bidang ekonomi-politik internasional. Dia melihat sektor ekonomi sebagai sektor yang paling mungkin kena dampaknya. Apalagi dunia (termasuk Indonesia) baru saja ancang-ancang mau lepas dari keterpurukan ekonomi akibat pandemi COVID-19.
"Perang ini mengancam pemulihan ekonomi internasional, maka Indonesia harus berbicara," ujar Riza.
Forum G20 dapat digunakan Indonesia untuk mengakhiri perang Rusia vs Ukraina. Presidensi G20 Indonesia masih berlangsung dan harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.
Selain G20, Indonesia bisa mengusahakan perdamaian lewat forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan ASEAN. Indonesia punya tujuan menciptakan perdamaian dunia sebagaimana amanat Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia 1945. Selain langkah konvensional, langkah nonkonvensional juga perlu ditempuh.
"Ini perlu kerja di luar kerja diplomatik, mungkin kerja intelijen melalui jalur-jalur yang tidak konvensional. Ini perlu dipikirkan Indonesia," kata Riza.
Riza melihat kehadiran Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan Amerika Serikat (AS) dalam konflik Ukraina versus Rusia justru malah menambah kacau perang ini. Saat ini kedua belah pihak perlu menahan diri.
"Kehadiran NATO dan AS mendukung Ukraina hanya semacam memperparah kondisi konfliknya," kata Riza.
Perang ini adalah permukaan paling atas dari masalah-masalah Rusia-Ukraina yang menumpuk tidak terselesaikan. Dialog konstruktif gagal dirancang. Perang sudah terjadi. Perlu pihak yang netral untuk menengahi dan menghentikan perang.
"Yang diperlukan adalah pihak di luar AS dan sekutunya. Apakah China, India, atau Indonesia. Indonesia, menurut saya, bisa karena ada di Presidensi G20," kata Riza.
.png)

Berita Lainnya
Kunjungan Wapres Gibran Disambut Antusias Warga Rohil, Infrastruktur hingga Pendidikan Jadi Harapan
Dikecam Keras, Pasar Tradisional di Yulin Masih Jual Daging Anjing
Alat Rapid Test Impor Tak Dipercaya, Pepaya Dites Hasilnya Positif
Sidang Pemakzulan Trump Dimulai Pekan Depan
Presiden Iran Ancam Musnahkan Israel Jika Berani Menyerang Lagi
Total Kasus Corona Lampaui 236 Ribu, India Geser Italia
Sekjen PBB: Eropa Hancur jika Rusia dan Ukraina Perang
Politikus Wanita Denmark Bikin Heboh Unggah Foto Berbusana Minim
Nama Brigjen Mukti Juharsa Disebut dalam Kasus Korupsi Timah, Kuasa Hukum Harvey Moeis Kesultian Beralibi
Indonesia Pimpin Dewan HAM PBB, Mafirion: Momentum Perkuat Kepemimpinan Global
Mobil Menabrak Masjidil Haram dan Bagaimana Itu Bisa Terjadi?
Biden Sebut Powell Orang yang Tepat untuk Pulihkan Ekonomi AS