Pilihan
AWG Kibarkan Bendera Indonesia-Palestina di Gunung Raung
Cegah Pandemi Flu Babi, Kementan Awasi Hewan Ternak Masuk RI
JAKARTA - Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian segera menindaklanjuti sejumlah temuan virus baru Flu Babi (Swine Flu) G4 EA H1N1 yang dipublikasi oleh ilmuwan China baru-baru ini dan berpotensi menjadi pandemi baru.
Direktur Kesehatan Hewan Kementan Fadjar Sumping Tjatur Rasa menjelaskan pihaknya berkoordinasi dengan petugas Badan Karantina Pertanian untuk memperketat pengawasan lalu lintas hewan dan produk hewan demi mengantisipasi masuknya virus flu babi di Indonesia.
"Nanti di pintu masuk ada pemeriksaan-pemeriksaan lebih ketat, kemudian ada pengambilan sampel untuk diuji di laboratorium," kata Fadjar Sumping dalam wawancara di Jakarta, Kamis, 2 Juli 2020.
- Pemerintah Teguhkan Semangat Reformasi Lewat Perlindungan Kebebasan Pers
- Ketua Tim Jargas Sebut Kado Ultah ke-26 Pelalawan Dapat Tambahan Kuota 3.076 Jaringan Gas dari APBN
- Aktif Kembali Bumdes Jaya Bersama setelah Fakum Hampir 7 Tahun
- Wabup Husni Tamrin Hadiri Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Lancang Kuning 2025
- Pemerintah Kabupaten Pelalawan Melaksanakan Operasi Pasar Murah Jelang Idul Fitri 1446 H
Fadjar menjelaskan bahwa selain memperketat pengawasan di pintu-pintu masuk hewan dan produk hewan, Kementan juga mempersiapkan laboratorium kesehatan hewan untuk melakukan diagnosa guna mendeteksi keberadaan virus influenza tersebut.
Menurut Fadjar, Indonesia sudah dinilai maju dalam melakukan surveilans untuk mendeteksi dini virus influenza tipe A dengan menggunakan fasilitas Influenza Virus Monitoring (IVM).
"Kita akan tingkatkan pengawasan dengan menggunakan fasilitas IVM di mana fasilitas ini juga dibantu oleh WHO (Organisasi Kesehatan Dunia)," kata dia.
Saat ini, Indonesia mempunyai delapan laboratorium aktif untuk melakukan surveilans deteksi dini dan monitoring keberadaan virus influenza tersebut, khususnya terhadap kasus flu babi.
Deteksi tersebut juga dilakukan terutama di daerah-daerah yang dianggap rawan, seperti berdekatan dengan pintu masuk importasi hewan dan produk hewan.
Fadjar menambahkan bahwa peningkatan waspada terhadap hewan dan produk hewan di Indonesia ini tidak hanya berlaku pada importasi dari China, tetapi juga negara lain, mengingat adanya kemungkinan produk tersebut mengalami transit di negara lain.
.png)

Berita Lainnya
Ada Omicron, Tito Karnavian Kasih PR Vaksinasi ke Pemprov Riau
Sekretaris Muhammadiyah Tolak Jadi Wamen, Abdul Mu’ti: Saya Merasa Tidak Mampu
Erick Thohir Minta Startup Kembangkan SDM Dalam Negeri
Kartu Prakerja Gelombang 4 Disetop Dulu, Begini Kata KPK
Dokter Boyke Meninggal Dunia, Prabowo Turut Bersedih
Ketua MPR Nyatakan Tidak Adil Mudik Dilarang, Tapi 305 WNA India Difasilitasi Masuk Indonesia
Pemda Dinilai Terlalu Hati-Hati Belanjakan Anggaran
DPR Dorong ASN Terima Bansos Segera Mengundurkan Diri Sebagai Penerima
Kelapa Sawit Dituding Jadi Perusak Hutan, Ini Respon Pemerintah
Iuran BPJS Kesehatan Peserta Kelas 3 Batal Naik
Kongres Persatuan PWI 2025 di Cikarang Akhir Agustus
Jokowi: Indonesia Berada di Ring of Fire, Bencana Bisa Terjadi Kapan Saja