Pilihan
Swasembada Beras Indonesia Diakui Dunia, Harga Beras Global Turun 44 Persen
Jakarta - Keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras pada 2025 tidak hanya memperkuat ketahanan pangan nasional, tetapi juga memberikan dampak signifikan terhadap pasar pangan global. Penghentian impor beras oleh Indonesia tercatat menekan harga beras dunia dari sekitar 660 dolar AS per ton menjadi 368 dolar AS per ton, atau turun hingga 44 persen.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyebut capaian tersebut sebagai bukti kuat bahwa kebijakan pangan nasional Indonesia kini memiliki pengaruh global.
“Penghentian impor beras oleh Indonesia berdampak langsung pada pasar global dengan menekan harga beras dunia hingga 44 persen,” ujar Amran.
Ia menjelaskan, lonjakan produksi beras nasional menjadi faktor utama. Sepanjang 2025, produksi beras Indonesia mencapai 34,71 juta ton atau 111,2 persen dari kebutuhan konsumsi nasional, sehingga Indonesia mencatat surplus beras sekitar 3,52 juta ton.
Capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu kekuatan pangan dunia. Berdasarkan laporan Food Outlook Juni 2025 yang dirilis Food and Agriculture Organization, Indonesia masuk dua besar negara dengan peningkatan produksi beras tertinggi di dunia, yakni sebesar 4,5 persen.
Di sisi lain, pengakuan internasional terhadap swasembada beras Indonesia terus menguat. Amran mengungkapkan, sejumlah negara maju seperti Jepang, Kanada, Chile, Belarus, Australia, dan Rusia datang langsung ke Indonesia untuk mempelajari kebijakan pangan nasional.
“Capaian swasembada beras Indonesia mendapatkan apresiasi FAO selama dua tahun berturut-turut. Banyak negara datang belajar karena mereka melihat lonjakan produksi dan stabilitas pasokan yang kita capai,” katanya.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa swasembada beras merupakan pijakan awal menuju kemandirian pangan nasional yang lebih luas.
“Saya yakin dalam empat tahun ke depan, kita akan swasembada dalam produk pangan lainnya, jagung, gula, dan protein,” tegas Presiden Prabowo.
Menurut Presiden, keberhasilan tersebut dapat dicapai berkat reformasi tata kelola, penyederhanaan regulasi, serta keberanian pemerintah untuk mengambil langkah strategis demi kepentingan jangka panjang bangsa.
Dari sisi pengelolaan stok, Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, memastikan Indonesia tidak akan melakukan impor beras selama kondisi swasembada tetap terjaga.
“Bulog sejak 2025 sampai ke depan, sepanjang Indonesia swasembada pangan, tidak akan merasakan impor beras,” ujarnya.
Ia menambahkan, Bulog menyiapkan cadangan beras pemerintah hingga 4 juta ton pada 2026, sekaligus membuka opsi penyediaan stok khusus 1 juta ton beras untuk bantuan internasional ke negara-negara ASEAN dan kawasan yang membutuhkan.
Keberhasilan Indonesia menekan harga beras dunia menegaskan bahwa swasembada beras bukan sekadar pencapaian domestik, melainkan telah mengangkat posisi Indonesia sebagai salah satu aktor penting dalam stabilitas pangan global. ***
.png)

Berita Lainnya
Tim Indonesia Didepak dari All England, DPR Desak Pemerintah Ambil Langkah Diplomatik
Target Tol Trans Sumatera hingga 2024: Lampung-Jambi Tersambung
Tertinggi dalam 3 Tahun Terakhir, Dana Pemda Mengendap di Bank Tembus Rp157 Triliun
LPSK Anggap Pelapor Kasus Korupsi Dijadikan Tersangka Preseden Buruk
Ada Omicron, Tito Karnavian Kasih PR Vaksinasi ke Pemprov Riau
Karyawan Bergaji di Bawah Rp5 Juta Dapat Subsidi Lagi, Begini Cara Daftarnya
Golkar Sambut Baik Keputusan Presiden atas Pembinaan Kesadaran Bela Negara
Tahap Seleksi CPNS 2021: Syarat, Pendaftaran, dan Pengumuman
Jaga Kredibilitas dan Kepercayaan, DD Waspada Serahkan Laporan Tahunan ke Kanwil Kemenag Sumut
Warga Keluhkan Kelangkaan Minyak Goreng, Bahkan di Toko Ritel Modern
Gempa M 6,2 Guncang Nias Selatan
Pemerintah Turunkan Harga BBM, Berikut Rinciannya