Pilihan
AWG Kibarkan Bendera Indonesia-Palestina di Gunung Raung
Pulanglah, Ali…
Polda Riau: Penyelidikan SPPD Fiktif di DPRD Rohil Masih Jalan!
PEKANBARU (INDOVIZKA) - Kepolisian Daerah (Polda) Riau masih mengusut dugaan penyimpangan Surat Perjalanan Dinas Fiktif (SPPD) fiktif di Sekretariat DPRD Rokan Hilir (Rohil) tahun 2017. Penanganan kasus masih dalam penyelidikan.
Sebelummya, Forum Masyarakat Bersih Riau (Formasi) menyebutkan kasus itu sudah dihentikan. Tindaklanjutnya, Formasi mengajukan praperadilan ke Pengadilan Negeri Pekanbaru pada 18 Maret 2021.
Formasi dalam gugatannya menyebutkan, penghentian penyidikan dugaan korupsi SPPD fiktif massal di DPRD Rokan Hilir 2017 tidak sah.
"Perkara masih lidik (penyelidikan, red), masih jalan," ujar Kabid Humas Polda Riau, Kombes Pol Sunarto, menepis kalau kasus sudah dihentikan.
Saat ini, kata Sunarto, penyidik masih mencari adanya pidana dalam perkara tersebut. "Anggota masih riksa (pemeriksaan,red) saksi-saksi di sana (Rohil,red)," kata Sunarto, Ahad (21/3/2021).
Terkait praperadilan yang diajukan Formasi, Sunarto menegaskan, itu hak semua orang. "Boleh saja (prapid), kami akan pelajari pelajari materinya, dan kita siap menghadapinya," tegas Sunarto.
Dalam proses pengusutan, penyidik sudah memeriksa seluruh anggota DPRD Rohil periode 2014 - 2019, Sekretaris Dewan (Sekwan) Rohil, Pengguna Anggaran, bendahara pengeluaran dan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK).
Sebelumnya, Direktur Reskrimsus Polda Riau, Kombes Pol Andri Sudarmadi, menyebutkan, penyidik juga memanggil saksi ahli untuk memperkuat adanya tindak pidana. "Saksi ahli juga kita mintai keterangannya, didatangkan dari luar Riau sedikit panjang proses nya tapi tidak ada permasalahan," kata Andri.
Selain meminta keterangan saksi dan mengumpulkan dokumen, penyidik juga berkoordinasi dengan auditor dari Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK). "Kita terus berkoordinasi. Terakhir pada pekan kemarin," kata Andri.
Dari informasi dihimpun, pada Maret 2017, Setwan Rohil menerima uang persediaan (UP) sebesar Rp3 miliar. Dari jumlah itu yang bisa dipertanggungjawabkan sekitar Rp1,395 miliar sedangkan sisanya Rp1,6 miliar tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Sejumlah dana sudah dikembalikan oleh anggota dewan. Disebutkan, anggota DPRD yang telah mengembalikan, memberikan kuitansi ke Inspektorat Rohil. Selanjutnya, diserahkan ke BPK.
Penyelidikan kasus itu sebagai tindak lanjut temuan BPK. Dugaan penyimpangan anggaran ini tercium oleh penyidik dari hasil Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) APBD Rohil 2017 yang menyebutkan ada dugaan penyimpangan SPPD yang digunakan anggota dewan tanpa didukung Surat Pertanggungjawaban (SPJ).***
.png)

Berita Lainnya
Kendati Dihantam Covid-19, Perusahaan Wajib Bayarkan THR Karyawan
Terbukti Wanprestasi, PN Bangkinang Wajibkan Koppsa-M Bayar Utang
Pekan Pertama Agustus, Harga Bawang Merah Turun, Cabai Masih Rp90 Ribuan
183 Peserta Sudah Jalani CAT, Tersisih 46 Orang Calon Panwascam Ikuti Tes Wawancara di Bawaslu Kampar
Dirjenbun Perjuangkan Beasiswa SDM Kelapa Sawit untuk Tingkat SMK Vokasi
Komisi III DPRD Pekanbaru Tetap Kawal Proses Belajar Tatap Muka
Bupati Sukiman Tak Masuk 10 Tokoh Pertama Penerima Vaksin di Rohul
Sekda Pekanbaru Ingatkan Disiplin Patuhi 4M
Polres Pelalawan Potong 11 Ekor Sapi Qurban, Kapolres AKBP Afrizal Asri SIK Bersama Istri Saksikan Proses Pemotongan
Dosen UIN Sampaikan Klarifikasi Soal Tudingan Ludahi Rektor
Tingkatkan Mutu SDM, Unilak-Pemkab Rohil Jalin Kerja Sama Bidang Pendidikan
Proyek IPAL Bikin 'Pusing' Masyarakat dan Pengusaha, DPRD Belum Jadi Panggil Kontraktor