Pilihan
Profil Lengkap Rohana Kudus, Pahlawan Nasional Sekaligus Jurnalis Perempuan Indonesia
(INDOVIZKA) - Hari ini Google menjadikan Rohama Kudus sebagai google doodle.
Siapakah Rohana Kudus?
Ia dilahirkan sebagai Siti Ruhana pada tanggal 20 Desember 1884 di desa Koto Gadang desa (nagari), Kabupaten Agam, di pedalaman Sumatera Barat, Hindia Belanda.
- Pemerintah Teguhkan Semangat Reformasi Lewat Perlindungan Kebebasan Pers
- Ketua Tim Jargas Sebut Kado Ultah ke-26 Pelalawan Dapat Tambahan Kuota 3.076 Jaringan Gas dari APBN
- Aktif Kembali Bumdes Jaya Bersama setelah Fakum Hampir 7 Tahun
- Wabup Husni Tamrin Hadiri Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Lancang Kuning 2025
- Pemerintah Kabupaten Pelalawan Melaksanakan Operasi Pasar Murah Jelang Idul Fitri 1446 H
Ayahnya Mohammad Rasjad Maharadja Soetan adalah kepala jaksa Karesidenan Jambi dan kemudian Medan. Ruhana adalah saudara tiri Sutan Sjahrir, dan sepupu Agus Salim, baik intelektual dan politisi penting dalam gerakan kemerdekaan Indonesia.
Dia juga bibi (mak tuo) penyair Indonesia Chairil Anwar. Ruhana cerdas meski tidak mengenyam pendidikan formal.
Dia sering belajar dengan ayahnya, yang mengajarkan membaca dan studi bahasa.
Ketika ayahnya ditugaskan di Alahan Panjang, Sumatera Barat, dia meminta tetangganya (termasuk istri jaksa lain) untuk mengajarkan membaca dan menulis dalam aksara Jawi dan Latin, dan keterampilan rumah tangga seperti membuat renda.
Setelah kematian ibunya pada tahun 1897, ia kembali ke Koto Gadang dan menjadi semakin tertarik untuk mengajar gadis-gadis di sana untuk belajar kerajinan tangan dan membaca Alquran meskipun ia sendiri masih anak-anak.
Pada tahun 1908, pada usia 24 tahun, Ruhana menikah dengan Abdoel Koeddoes, seorang notaris, dan dikenal sebagai Roehana Koeddoes. Abdoel Koeddoes mendukung upaya istrinya dalam mendidik perempuan.
Upaya awal Ruhana pada bentuk pendidikan yang lebih terorganisir datang pada tahun 1905 ketika ia mendirikan sekolah artisanal di Koto Gadang.
Pada bulan Februari 1911, Ruhana memutuskan untuk mendirikan suatu perkumpulan pendidikan perempuan yang lebih terorganisir, bernama Kerajinan Amai Setia.
Sekolah yang secara khusus bertujuan untuk mengajar anak perempuan kerajinan dan keterampilan di luar tugas-tugas rumah tangga biasa mereka, serta membaca Jawi dan tulisan Latin dan untuk mengelola sebuah rumah tangga.
Selama ini, ia menghadapi tantangan dari berbagai sumber yang menentang perubahan dan kemajuan perempuan. Dengan dukungan suaminya, Ruhana bertahan dan akhirnya membujuk orang untuk berpihak padanya, akhirnya merekrut sekitar 60 siswa.
Sekolah ini mendapat pengakuan resmi dari pemerintah pada tahun 1915, dan menjadi pusat pengrajin untuk bekerja sama dengan pemerintah Belanda dalam penjualan karya mereka di kota-kota besar dan luar negeri.
Itu adalah satu-satunya produsen kerajinan yang memenuhi standar pembelian internasional.
Dia terus bekerja di bidang pendidikan bahkan saat menjadi jurnalis.
Pada tahun 1916 ia diangkat sebagai guru di sebuah sekolah untuk orang Indonesia di Payakumbuh, Sumatera Barat.**
.png)

Berita Lainnya
Basarnas Siapkan 3.800 Personel Untuk Libur Tahun Baru dan Natal
Imam Islamic Center of New York: Kalau Din Syamsuddin Radikal, Siapa yang Moderat?
Abu Bakar Ba'asyir Bebas Murni Hari Ini
Dibuka 30 Mei, Ini 5 Informasi dan Syarat Penting CPNS Kemenkumham 2021
Pengamat Nilai Regulasi Jadi Kunci Cegah Ancaman Siber dan Spionase Asing*
Laporan Kekayaan Nugroho Dirut Telkomsel Tembus Rp84 Miliar, Berikut Rinciannya!
Pemerintah Ungkap Punya Strategi Baru untuk Tangani Pandemi Covid-19
Kekuatan Militer Indonesia di Peringkat 16 dari 138 Negara
Airlangga Hartarto Sebut Industri Kelapa Sawit Serap 16 Juta Tenaga Kerja
Pecah Rekor, Utang Baru Pemerintah Capai Rp 421 T di Semester I 2020
Danrem 061 Surya Kencana Brigjen TNI Achmad Fauzi Ancam Bubarkan Ceramah Bahar Smith jika...
Berikut Besaran Gaji Kepala Desa dan Lama Masa Jabatannya, Anda Berminat?