Pilihan
Mantan Panglima OPM Desak Gubernur dan Pejabat di Papua Mundur
JAKARTA (INDOVIZKA) - Mantan Panglima Tentara Pembebasan Nasional (TPN) Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Kabupaten Keerom, Lambert Pekikir meminta Gubernur Provinsi Papua Lukas Enembe beserta pejabat daerah berkinerja rendah meletakkan jabatan. Lambert mengklaim, permintaannya itu merupakan keinginan masyarakat Papua.
"Negara punya kekuatan, kalau seorang pemimpin, Gubernur Papua, kepala daerah tidak beres, sebaiknya mundur," kata Lambert Pekikir, Sabtu (11/12).
Dia meminta pemerintah pusat tegas dan mendengarkan aspirasi dari masyarakat Papua. "Karena saya kan tidak mungkin menurunkan gubernur," ujarnya.
- Pemerintah Teguhkan Semangat Reformasi Lewat Perlindungan Kebebasan Pers
- Ketua Tim Jargas Sebut Kado Ultah ke-26 Pelalawan Dapat Tambahan Kuota 3.076 Jaringan Gas dari APBN
- Aktif Kembali Bumdes Jaya Bersama setelah Fakum Hampir 7 Tahun
- Wabup Husni Tamrin Hadiri Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Lancang Kuning 2025
- Pemerintah Kabupaten Pelalawan Melaksanakan Operasi Pasar Murah Jelang Idul Fitri 1446 H
Menurut Lambert, pejabat di Papua selayaknya melaksanakan agenda negara. Sehingga jika pejabat tersebut lalai, maka pantas diganti.
"Mundur dari jabatan, Pak Mendagri bisa melakukan itu, mundur, yah mundur," pungkasnya.
Mantan pejuang Papua Merdeka itu memandang, pemerintahan di Papua dikendalikan oleh sejumlah 'gubernur kecil'. Para pihak tersebut mempengaruhi Gubernur Papua dan memaksakan kepentingan mereka untuk tujuan tertentu.
"Gubernur-gubernur kecil yang mengkondisikan itu, dana-dana diatur untuk kepentingan mereka, sedangkan rakyat tetap menderita," tuturnya.
Lambert Pekikir bersama pasukannya selama 20 tahun tinggal di tengah rimba Papua. Dia dikenal sebagai penguasa Markas Victoria.
Di pertengahan tahun 2013, Lambert kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Meski kini tak lagi memegang senjata, ia terus berjuang melawan ketidakadilan dan para koruptor.
Sebelumnya, mantan tokoh OPM itu meminta pemerintah berkomitmen dengan pemberantasan korupsi di Papua. "Dana Otsus disalahgunakan oleh oknum-oknum penyelenggara Otsus di pemerintahan," ucapnya.
Ia menceritakan, proses perjalanan Otonomi Khusus sejak hampir tiga dekade banyak menyisakan penderitaan bagi orang Papua. Otsus dianggap bukan milik masyarakat Papua.
Baginya, Otsus hanyalah 'gula-gula' yang ditawarkan pemerintah pusat sebagai jembatan untuk memperkaya diri.
"Presiden harus memerintahkan KPK dan kepolisian, menangkap koruptor yang menghilangkan dana Otsus," tegasnya.
.png)

Berita Lainnya
MUI Riau Kutuk Keras Bom Bunuh Diri Gereja Ketedral Makassar
Pelanggan Kelebihan Bayar, PLN Bakal Kembalikan
Sekretaris Muhammadiyah Tolak Jadi Wamen, Abdul Mu’ti: Saya Merasa Tidak Mampu
Inilah Daftar Bansos yang Cair Bulan November 2021, Simak Cara Cek Secara Online
Harga Melejit, Pemerintah Diminta Kendalikan Konsumsi BBM
Guru Tak Masuk Formasi CPNS 2021, PGRI: Aneh, Kebijakan Ini Dasarnya Apa?
Beredar Info Kuota Jemaah Haji 2021, Ini Penjelasan Dubes Indonesia untuk Arab Saudi
Dosen R Tidak Mengaku Bersalah, Polisi Ungkap Chat Mesum ke 3 Mahasiswi Unsri
Meski Belum Diresmikan, Peserta BPJS Ketenagakerjaan Sudah Bisa Klaim JKP
Desa Wisata Goes to Mandalika, Ajang Pameran Produk Desa Wisata Terpilih
Indonesia-Jepang Bakal Bahas Upaya Pemulihan Ekonomi di Pertemuan G20
Tak Bisa Ditawar, DPR Tegaskan MBG Program Mandatory di Sektor Pendidikan