Pilihan
AWG Kibarkan Bendera Indonesia-Palestina di Gunung Raung
Ketahui Bahaya Penggunaan Antibiotik yang Tidak Tepat
JAKARTA (INDOVIZKA) - Antibiotik diketahui dapat mengobati penyakit akibat infeksi bakteri dan telah menyelamatkan banyak nyawa. Namun, konsumsi antibiotik ketika tidak dibutuhkan dan penggunaan yang tidak tepat dapat berbahaya.
Menurut Centers for Disease Control (CDC), mengkonsumsi antibiotik saat tidak dibutuhkan tidak akan membantu pasien untuk sembuh. Justru menimbulkan efek samping yang membahayakan dan meningkatkan jumlah infeksi bakteri yang menjadi resistensi terhadap obat antibakteri atau kekebalan terhadap antibiotik.
Selain itu konsumsi antibiotik akan berbahaya ketika seseorang diresepkan antibiotik yang salah, dosis antibiotik yang salah, atau antibiotik untuk jangka waktu yang salah. Maka perlu dibicarakan dengan dokter tentang pengobatan terbaik untuk penyakit.
- Owner Almaz Fried Chicken Mengundurkan Diri di Saat Brand Tengah Bermasalah
- 6 Manfaat Rebusan Daun Dibawah Ini Bisa Turunkan Gula Darah
- Dinkes Pekanbaru Anggarkan Layanan Kesehatan Doctor On Call
- Dinkes Inhil Gelar Pembekalan Kesehatan kepada 303 Calon Jama'ah Haji
- Dinkes Inhil Canangkan BIAN se-Kecamatan Tembilahan Hulu
Perlu diketahui, antibiotik digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan infeksi bakteri pada manusia dan hewan dengan membunuh bakteri atau mempersulit bakteri untuk tumbuh dan berkembang biak.
Antibiotik hanya mengobati infeksi tertentu yang disebabkan oleh bakteri, seperti radang tenggorokan dan infeksi saluran kemih. Namun, tidak semua penyakit yang disebabkan bakteri membutuhkan antibiotik seperti infeksi sinus dan beberapa infeksi telinga.
Karena penyakit ini biasanya akan sembuh dengan sendirinya tanpa antibiotik. Hindarkan penggunaan antibiotik yang disebabkan oleh infeksi virus seperti pilek dan flu.
Dilansir dari healthline, banyak orang Amerika menimbun antibiotik dan menyimpannya untuk hari hujan atau memesannya secara online untuk menghindari biaya perjalanan ke dokter.
Sementara itu, berbagai penelitian lain menemukan orang yang menyimpan antibiotik untuk penggunaan di masa depan berkisar antara 14-48 persen.
Ketua Departemen Asisten Dokter dan Asisten Profesor di Seton Hall University di New Jersey, Christopher Hanifin, menyebutkan antibiotik dapat menyebabkan berbagai efek samping seperti reaksi alergi yang serius dan bahkan infeksi lainnya karena antibiotik dapat membunuh populasi bakteri menguntungkan di dalam tubuh.
Dikutip dari Mayoclinic, sekitar 2 juta infeksi dari bakteri resisten antibiotik terjadi di Amerika Serikat setiap tahun dan mengakibatkan 23.000 kematian.
Konsekuensi lain dari infeksi yang resistan antibiotik di antaranya penyakit jadi lebih serius, pemulihan lebih lama, dan perawatan lebih mahal.
Penggunaan antibiotik rawat jalan yang berlebihan adalah masalah khusus. Terlalu banyak antibiotik yang diresepkan dan disalahgunakan dapat mengancam kegunaan antibiotik.
Berdasarkan kutipan dari Rady Children Hospital San Diago, penggunaan antibiotik yang berlebihan dapat menyebabkan masalah lain. Seperti diare karena kurangnya bakteri baik yang membantu mencerna makanan dengan baik.
Ini karena antibiotik membunuh banyak bakteri berbeda, yang memungkinkan bakteri baik ikut terbunuh. Dalam beberapa kasus, bakteri jahat seperti Clostridium difficile dapat tumbuh berlebihan dan menyebabkan infeksi.
.png)

Berita Lainnya
Dinkes Inhil Himbau Calon Pasangan Pengantin Lakukan Pemeriksaan Kesehatan Sebelum Menikah
106 Ekor Hewan Ternak di Inhil terkonfirmasi PMK
PMI Pekanbaru Beli Mobil Ambulans Dukung Program Doktor on Call
Dinkes Inhil Buka Secara Resmi Pertemuan Koordinasi SISRUTE
Satu Lagi Pasien Covid-19 dari Inhil Sembuh
Vaksin Covid-19 Segera Tiba di Inhil
Tren Prevelensi Stunting Desa Sari Mulya Naik Di Tahun 2024
Dua Warga Siak PDP COVID-19 Usai Dari Malaysia Dan Bandung
Satu PDP Virus Corona di Dumai Meninggal Dunia, Dimakamkan Sesuai Protap
Bupati Rohil Positif Covid-19
2.069 APD Disalurkan ke 47 Rumah Sakit di Riau
Dinkes Inhil Laksanakan DAK Non Fisik dari Kementrian dan IDI di Puskesmas Batang Tumu