Pilihan
AWG Kibarkan Bendera Indonesia-Palestina di Gunung Raung
Pulanglah, Ali…
Pakar Sebut Kalung Antivirus Kementan Belum Teruji Untuk Covid-19
JAKARTA - Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia Inggrid Tania mengatakan kalung antivirus produksi Kementerian Pertanian yang diklaim ampuh membunuh corona belum terbukti dapat mematikan virus Sars Cov-2 yang menyebabkan penyakit Covid-19. Musababnya, hasil penelitian ini hanya diuji secara in vitro untuk virus influenza, betacorona, dan gammacorona.
“Jadi belum diuji pada Covid-19. Memang tidak salah meyebut anti-corona. Tapi corona yang mana,” ujar Inggrid saat dihubungi pada Sabtu, 4 Juli 2020.
Sebelumnya, berdasarkan penelitian ilmuwan, terdapat tujuh jenis virus corona yang dapat menginfeksi manusia. Ketujuhnya adalah HCoV-229E (alpha coronavirus), HCoV-NL63 (alpha coronavirus), HCoV-OC43 (beta coronavirus), HCoV-HKU1 (beta coronavirus), Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), Middle East Respiratory Syndrome-Corona Virus (MERS-CoV), dan 2019 Novel Coronavirus alias Sars Cov-2 yang saat ini dikenal menyebabkan wabah Covid-19.
- Ketua Tim Jargas Sebut Kado Ultah ke-26 Pelalawan Dapat Tambahan Kuota 3.076 Jaringan Gas dari APBN
- Aktif Kembali Bumdes Jaya Bersama setelah Fakum Hampir 7 Tahun
- Wabup Husni Tamrin Hadiri Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Lancang Kuning 2025
- Pemerintah Kabupaten Pelalawan Melaksanakan Operasi Pasar Murah Jelang Idul Fitri 1446 H
- Pemkab Pelalawan Sediakan Bantuan Penyebrangan Roda Dua Gratis Melintasi Banjir Jalan Lintas Timur
Untuk dapat memperoleh klaim antivirus Covid-19, Inggrid mengatakan Kementerian Pertanian harus menggelar uji klinis secara spesifik dengan mengisolasi atau melakukan strain terhadap virus Sars Cov-2. Dengan kondisi penderita virus corona di Tanah Air yang jumlahnya sudah mencapai lebih dari 60 ribu kasus, kata dia, semestinya tim peneliti pemerintah bisa memperoleh sampel virus tersebut. Pemerintah, kata dia, juga dapat menggandeng Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.
Inggrid khawatir dirilisnya kalung anti-virus yang membawa label anti-virus corona itu akan menyebabkan salah persepsi di kalangan masyarakat. Musababnya, bandul ini muncul saat pandemi Covid-19 merebak.
Inggrid mengakui telah memberikan masukan kepada Kementerian Pertanian sejak Mei lalu. Kala itu, Kementerian sudah mengumumkan niatnya untuk memproduksi kalung dalam jumlah banyak. “Saya beri saran namanya bukan klaim antivirus, tapi mengurangi gejala gangguan pernapasan pada penyakit Covid-19. Karena kalung ini mengandung eucalyptus yang sifatnya melegakan pernapasan,” kata dia.
Di samping itu, ia menyoroti hasil penelitian Kementerian Pertanian yang belum diuji oleh Kementerian Kesehatan. Jalannya proses penelitian ini pun dinilai terlalu singkat, yakni mulai Maret 2020 lalu.
Kementerian Pertanian beberapa waktu lalu mengumumkan telah mengembangkan kalung yang diklaim mampu membunuh virus influenza hingga virus corona berbahan atsiri alias eucalyptus—bahan untuk membuah minyak kayu putih. Antivirus ini telah dipatenkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian.
Kepala Badan Litbang Pertanian Fadjry Djufry mengatakan, saat ini memang banyak negara berlomba-lomba menemukan antivirus corona. “Begitu pun di Indonesia. Pemerintah melalui kementerian dan lembaga terus mencoba mencari cara dan menemukan obat untuk mencegah serta menangani virus corona (Covid-19) yang masih mewabah di Indonesia,” katanya dalam keterangan tertulis.
Fadjry menerangkan, kalung antivirus tersebut bukan merupakan obat oral maupun vaksin. Namun, ia mengklaim, berdasarkan penelitian, eucalyptol dapat berpotensi mengikat protein Mpro sehingga menghambat replikasi virus.
“Manfaat tersebut dapat terjadi karena 1,8 cineol dari eucalyptus--disebut eucalyptol--dapat berinteraksi dengan transient receptor potential ion chanel yang terletak di saluran pernapasan,” ucapnya.
Menurut Fadjry, eucalyptus ini pun sudah turun menurun digunakan sebagai minyak kayu putih. Adapun fungsi eucalyptus tersebut sebelumnya ialah untuk melegakan saluran pernapasan, menghilangkan lendir, pengusir serangga, disinfektan luka, penghilang nyeri, mengurangi mual, dan mencegah penyakit mulut.
Setelah dikembangkan, Fadjry ,mengatakan minyak atsiri eucalyptus pun bisa menjadi antivirus terhadap virus avian influenza (flu burung) subtipe H5N1, gammacorona virus, dan betacoronavirus. "Berdasarkan hasil uji, ternyata eucalyptus sp. bisa membunuh 80-100 persen virus mulai dari avian influenza hingga virus corona. Setelah hasilnya bagus, kami lanjutkan ke penggunaan nanoteknologi agar kualitas produknya lebih baik,” ucapnya.**
.png)

Berita Lainnya
1.500 Guru Bantu di Riau Jadi Peserta Program BPJS Ketenagakerjaan
Anggota DPR Minta Waspada Niat Jozeph Paul Zhang Diduga Menista Agama, Sampai Sebut Allah Lagi Dikurung di Ka'bah
Polisi Soal Front Persatuan Islam: Silakan Sesuai Aturan
Penerimaan CPNS Tidak Ada Selama 2 Tahun
PPK Pembangunan Turap Danau Tajwid Diperiksa Jaksa
14 Keluarga Korban Sriwijaya Air SJ 182 Gugat Boeing, Tuntut Ganti Rugi
Chaidir: Secara Umum Masyarakat Tak Bisa Menerima
Sebelum 15 Juli, Semua Daerah sudah Cairkan Dana Pilkada
PPKM Level 4 Diperpanjang Hingga 16 Agustus
PAN Usul Pemerintah Terapkan Lockdown Tiap Akhir Pekan
Masnur: Saya Meneteskan Air Mata ketika Golkar di Riau Tumbang
Peduli Kesejahteraan Petani Kelapa, KKIH Temui Abdul Wahid