Pilihan
Gegara Bayar Utang, Tren Rekor Cadangan Devisa RI Terhenti
JAKARTA (INDOVIZKA) - Setelah dua bulan beruntun mencatat rekor tertinggi sepanjang masa, cadangan devisa Indonesia akhirnya mengalami penurunan di bulan Oktober. Penyebabnya, pembayaran utang pemerintah.
Bank Indonesia (BI) hari ini melaporkan cadangan devisa pada akhir Oktober turun US$ 1,4 miliar ke US$ 145,5 miliar. Di bulan September, cadangan devisa tercatat sebesar US$ 146,9 miliar yang merupakan rekor tertinggi sepanjang masa.
"Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2021 tetap tinggi sebesar 145,5 miliar dolar AS, meskipun menurun dibandingkan dengan posisi pada akhir September 2021 sebesar 146,9 miliar dolar AS. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 8,5 bulan impor atau 8,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," papar keterangan tertulis BI, Jumat (5/11/2021).
- Pemerintah Teguhkan Semangat Reformasi Lewat Perlindungan Kebebasan Pers
- Ketua Tim Jargas Sebut Kado Ultah ke-26 Pelalawan Dapat Tambahan Kuota 3.076 Jaringan Gas dari APBN
- Aktif Kembali Bumdes Jaya Bersama setelah Fakum Hampir 7 Tahun
- Wabup Husni Tamrin Hadiri Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Lancang Kuning 2025
- Pemerintah Kabupaten Pelalawan Melaksanakan Operasi Pasar Murah Jelang Idul Fitri 1446 H
Menurut BI, penurunan posisi cadangan devisa pada Oktober 2021 antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Selain pembayaran utang, faktor lainnya seperti nilai tukar rupiah yang cukup stabil sebenarnya bisa mendukung penambahan cadangan devisa. Sepanjang bulan Oktober lalu, nilai tukar rupiah akan menguat lebih dari 1% melawan dolar Amerika Serikat (AS), sehingga kebutuhan intervensi dengan menggunakan cadangan devisa menjadi minim.
Selain itu, harga komoditas masih tinggi, yang tentunya bisa menambah devisa.
Sebelum mengalami penurunan bulan lalu, kenaikan tajam harga komoditas membuat cadangan devisa Indonesia mencatat rekor dua bulan beruntun.
Kenaikan harga komoditas tersebut mempengaruhi penerimaan pajak, bea keluar hingga PNBP. Pajak misalnya, pada Januari-September 2021 melonjak 38,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Jauh membaik ketimbang sembilan pertama 2020 yang ambles 42,7% yoy.
Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan, menyampaikan efek lonjakan harga komoditas berpengaruh terhadap bea keluar (BK) di mana realisasinya mencapai Rp 22,56 triliun atau terbaik sepanjang sejarah Indonesia.
"BK melonjak 910,6% karena komoditas CPO dan logam dasar, batu bara nikel dan lain-lain," ungkap Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita periode Oktober 2021, Senin (25/10/2021).
.png)

Berita Lainnya
Mantan Intel Tuding Virus Corona Merupakan Senjata Biologi China Untuk Militer, Senjata Makan Tuan?
Relaunching AMANAH Disambut Luas, Dorong Pemuda Aceh Jadi Motor Ekonomi Kreatif
Viral Ibu Arteria Dahlan Dicaci Anak Jenderal di Bandara
Pemerintah Salurkan Bantuan Kuota Internet untuk 24,4 Juta Orang, Siapa Saja Penerima nya?
Kronologi Bahasa Melayu Berubah Menjadi Bahasa Indonesia pada Sumpah Pemuda
Karyawan Bergaji di Bawah Rp5 Juta Dapat Subsidi Lagi, Begini Cara Daftarnya
Jokowi Teken Perpres Tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif
Gara-gara Corona, Kemenag Tiadakan Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional
Keluar-Masuk Sumbar Dilarang Hingga 31 Mei 2020
Ada Omicron, Tito Karnavian Kasih PR Vaksinasi ke Pemprov Riau
Anggota DPR RI Karmila Sari dan Mendiktisaintek Prof Brian Perjuangkan Hak Disabilitas di Perguruan Tinggi
Momentum Hari Disabilitas, BIN Gelar Vaksinasi Bagi Lansia dan Difabel