Pilihan
Inilah Sososk Rohana Kudus, Wartawati Pertama di Indonesia
(INDOVIZKA) – Indonesia mungkin sudah merdeka, tapi semua ini tidak terlepas dari perjuangan dan rintangan berat yang telah dilakukan oleh para pejuang dalam merebut Indonesia dari tangan para penjajah.
Hari Pahlawan Nasional diperingati untuk mengenang jasa-jasa dan perjuangan dari para pahlawan yang telah gugur saat masa penjajahan terdahulu.
Peringatan ini jatuh pada setiap tanggal 10 November tiap tahunnya.
- Pemerintah Teguhkan Semangat Reformasi Lewat Perlindungan Kebebasan Pers
- Ketua Tim Jargas Sebut Kado Ultah ke-26 Pelalawan Dapat Tambahan Kuota 3.076 Jaringan Gas dari APBN
- Aktif Kembali Bumdes Jaya Bersama setelah Fakum Hampir 7 Tahun
- Wabup Husni Tamrin Hadiri Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Lancang Kuning 2025
- Pemerintah Kabupaten Pelalawan Melaksanakan Operasi Pasar Murah Jelang Idul Fitri 1446 H
Pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai Rohana Kudus, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia yang dianugerahi Pahlawan Nasional Indonesia,
Di Minangkabau Pun, daerah yang memiliki konsep lokal wanita sebagai Bundo Kanduang juga mempunyai sejarah dan pergerakan pemberdayaan perempuan. Setidaknya, ini dibuktikan oleh Rohana Kudus dalam lintas pergerakan perempuan masa lalu di Minangkabau.
Pergerakan-pergerakan pemberdayaan perempuan yang dilakukan oleh Rohana Kudus adalah simbol manifestasi perjuangan kaum perempuan dari realita yang tidak seimbang memandang perempuan itu sendiri.
Profil Rohana Kudus/ Roehana Koeddoes
-
Kelahiran: 20 Desember 1884, Koto Gadang
-
Meninggal: 17 Agustus 1972, Jakarta
-
Lahir: 20 Desember 1884; Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda
-
Orang tua: Mohamad Rasjad Maharadja Soetan (ayah), Kiam (ibu)
-
Suami: Abdoel Koeddoes
-
Saudara kandung: Sutan Syahrir
Perjuangan Rohana akhirnya membawa secercah harapan bagi perempuan kampungnya Koto Gadang, melalui usaha pemberdayaan kaum perempuan yang dirintis Rohana dengan mendirikan institusi pendidikan yang bergerak dalam bidang pendidikan dan keterampilan wanita, yang diberinya nama Kerajinan Amai Setia.
Selain bergerak dalam bidang pendidikan, Rohana juga berjuang melalui tulisan dengan diterbitkannya, sebuah surat kabar yang bernama Sunting Melayu.
Surat kabar ini diterbitkannya pada tahun 1912. Surat kabar ini merupakan, koran perempuan pertama di negeri ini.
Di koran ini, Rohana banyak menulis tentang kegundahannya dalam melihat realita, terutama yang berkaitan dengan nasib kaum perempuan yang masih terjepit dalam pemikiran-pemikiran sempit.
Oleh sebab itu, perjuangan pemberdayaan perempuan dalam pergerakan yang dilkukan Rohana cukup luas tidak hanya sebatas lokal, tetapi disuarakannya dengan lantang melalui media masa yang diterbitkannya dan dibaca oleh banyak orang.
Di sinilah, kiprah Rohana mulai dikenal dengan luas.
Dari perjalannya di dunia pers ini, pantaslah Rohana dinobatkan sebagai wartawati atau jurnalis perempuan pertama di negeri ini yang bergerak memperjuangkan kaumnya.
Atas jasanya ini, pemerintah Sumatera Barat menobatkan Rohana sebagai wartawati pertama di Minangkabau, dengan diberikannya penghargaan kepada Rohana pada tanggal 15 Agustus 1974.
Sejak 2018, Pemerintah Sumatera Barat sudah mengajukannya sebagai pahlawan nasional dari Sumatera Barat, namun belum membuahkan hasil. Barulah pada Jumat (8/11/2019), Presiden Joko Widodo atau Jokowi akan menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada enam tokoh di Istana Negara, Jakarta
.png)

Berita Lainnya
Resmi, DPR dan Pemerintah Sepakat UU Pemilu Batal Direvisi
Wahid Sampaikan Dukungan Penambahan Kuota BBM yang Diusulkan Gubri kepada BPH Migas
Viral Ibu Arteria Dahlan Dicaci Anak Jenderal di Bandara
Kemnaker: JHT Merupakan Program Pelindungan Sosial Jangka Panjang
Pimpinan Muhammadiyah Sarankan Pemudik Pakai Alasan sebagai TKA Cina Kalau Dicegat
Polisi Kantongi Identitas Terduga Pelaku Pembobolan Rumah Jaksa KPK
Datangi JICT, DPR Minta Basarnas Prioritaskan Pencarian Korban
Kementerian PUPR Siapkan Rusun untuk Penonton MotoGP Mandalika
Aroma Bisnis di Balik Toilet SPBU Pertamina
AHY Minta Pemerintah Tanggung Keluarga Korban KRI Nanggala-402
Front Pemersatu Islam Tak Mengenal Jabatan Imam Besar, Habib Rizieq Jadi Apa?
Gunung Es Terbesar di Dunia Hanyut Tanpa Arah di Laut Lepas