Pilihan
AWG Kibarkan Bendera Indonesia-Palestina di Gunung Raung
Epidemiolog Nilai Indonesia Bisa Lolos Gelombang 3 Covid-19, Berikut Penjelasannya
JAKARTA (INDOVIZKA) - Epidemiolog dari Universitas Indonesia, Pandu Riono menekankan, kecil kemungkinan gelombang tiga penularan virus, terjadi pada libur akhir tahun. Kendati begitu, dia tetap mengingatkan upaya pencegahan terus diterapkan.
Pernyataan Pandu bahwa potensi gelombang tiga sangat kecil terjadi karena tingkat kekebalan masyarakat Indonesia sudah tinggi. Selain itu, kekebalan tubuh seseorang menurutnya menjadi andalan dalam upaya menekan pandemi.
"Tingkat kekebalan penduduk yang tinggi dan dapat diandalkan untuk cegah gelombang Pandemi," ucap Pandu saat dikonfirmasi merdeka.com, Senin (13/12).
- Pemerintah Teguhkan Semangat Reformasi Lewat Perlindungan Kebebasan Pers
- Ketua Tim Jargas Sebut Kado Ultah ke-26 Pelalawan Dapat Tambahan Kuota 3.076 Jaringan Gas dari APBN
- Aktif Kembali Bumdes Jaya Bersama setelah Fakum Hampir 7 Tahun
- Wabup Husni Tamrin Hadiri Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Lancang Kuning 2025
- Pemerintah Kabupaten Pelalawan Melaksanakan Operasi Pasar Murah Jelang Idul Fitri 1446 H
Pandu juga menilai kebijakan pemerintah membatalkan PPKM Level 3 merupakan keputusan tepat. Menurutnya, libur Natal dan Tahun Baru 2022 tidak secara otomatis berdampak terhadap lonjakan kasus Covid-19.
Merujuk ke penjelasan sebelumnya, bahwa kekebalan masyarakat Indonesia cukup tinggi, sehingga Pandu berpandangan, pandemi masih dapat terkontrol.
"(Libur) Natal dan Tahun Baru tidak akan mendorong lonjakan yang tinggi, yang disebut gelombang 3. Kecil kemungkinan terjadi," tandasnya.
Sementara itu, Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Sonny Harry mengatakan, Indonesia perlu mewaspadai potensi lonjakan kasus positif Covid-19.
"Perkiraan terburuk, kasus akan naik sekitar 430 persen sampai 1 Maret 2022 kalau kita tidak melakukan upaya ketat, memperlemah penerapan protokol kesehatan, vaksinasi tidak mencapai target, dan testing serta tracing menurun," kata Sonny, dilansir Antara, Senin (22/11).
Pemerintah mempelajari bahwa kasus positif Covid-19 dapat melonjak setelah libur panjang, baik pada momen Idul Fitri maupun Natal dan tahun baru, karena mobilitas masyarakat meningkat tidak hanya antarkota di dalam negeri.
"Ada juga mobilitas masyarakat balik dari negara lain, ini yang kita harus waspadai sehingga kita harus terus memperketat upaya melakukan screening bagi orang yang masuk untuk mencegah masuknya varian Covid-19 baru di Indonesia," katanya.
Dalam 13 minggu setelah Natal dan tahun baru 2020, kasus positif Covid-19 meningkat hingga 398 persen. Begitu pula saat varian delta mulai menyebar di Indonesia setelah Idul Fitri 2021, kasus positif Covid-19 meningkat hingga 900 persen dalam 8 minggu.
.png)

Berita Lainnya
Cegah Varian Omicron, Pemerintah Perketat Pengawasan Pelaku Perjalanan
Baik bagi Kecerdasan Anak, Ini 8 Alasan Wajib Sarapan
Kadinkes Provinsi Riau Surati Suluruh Fasyankes di Jalur Mudik Buka 24 Jam
Vaksinasi Booster Berjalan Paralel pada 2022, Ada yang Gratis dan Berbayar
Tapung Sudah Capai 75,2 Persen Vaksinasi, Camat Bersama Pihak Terkait Turlap Pantau Giat Vaksinasi
Langka di Pasar, Pegawai DLHK Inhil Racik Hand Sanitizer Berbahan Alami
Anggota DPR Minta Pemerintah Sediakan Vaksin COVID-19 Halal
Hingga Mei 2023 Tercatat 31 Kasus DBD di Inhil
7 Tips Menjaga Kesehatan Mata
Hari Ini Riau Tambah 11 Kasus Covid-19
Baik bagi Kecerdasan Anak, Ini 8 Alasan Wajib Sarapan
Update Covid-19 di Riau: 1.823 ODP, 55 Pasien Dalam Pengawasan