Pilihan
Studi Indef: Subsidi Minyak Goreng Kemasan Tidak Tepat Sasaran
JAKARTA (INDOVIZKA) - Studi yang dilakukan Indef menunjukkan bahwa subsidi minyak goreng kemasan sederhana dan premium yang dilakukan pemerintah dinilai kurang tepat sasaran. Alasannya sebagian masyarakat kecil lebih banyak mengkonsumsi minyak goreng curah ketimbang minyak goreng kemasan.
Apalagi, penjualan minyak goreng kemasan juga terbatas di toko ritel modern. Sehingga, alih-alih mudah dijangkau masyarakat kelas bawah, justru lebih lebih banyak dinikmati masyarakat kelas menengah.
"Harusnya subsidi minyak goreng ini ke minyak goreng curah agar bisa tepat sasaran," kata Peneliti Indef, Rusli Abdullah di Jakarta, Kamis (3/2).
- Pemerintah Teguhkan Semangat Reformasi Lewat Perlindungan Kebebasan Pers
- Ketua Tim Jargas Sebut Kado Ultah ke-26 Pelalawan Dapat Tambahan Kuota 3.076 Jaringan Gas dari APBN
- Aktif Kembali Bumdes Jaya Bersama setelah Fakum Hampir 7 Tahun
- Wabup Husni Tamrin Hadiri Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Lancang Kuning 2025
- Pemerintah Kabupaten Pelalawan Melaksanakan Operasi Pasar Murah Jelang Idul Fitri 1446 H
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan tahun 2022, konsumsi minyak goreng untuk kebutuhan rumah tangga sebagian besar atau 61,2 persen dalam bentuk minyak curah. Artinya, dalam setahun masyarakat mengkonsumsi minyak goreng curah sebanyak 2,4 juta kilo liter.
Sementara itu, konsumsi masyarakat yang menggunakan minyak goreng premium sebesar 1,27 juta kilo liter. Sedangkan rumah tangga pengkonsumsi minyak goreng kemasan sederhana hanya sekitar 200 ribu kilo liter per tahun.
Namun dengan alasan mempermudah administrasi, pemerintah memilih jalan mensubsidi harga minyak goreng kemasan premium dan sederhana agar harganya terjangkau. Sehingga bisa dibeli masyarakat dengan harga Rp 14.000 per liter.
"Ini kan sebenarnya hanya masalah administrasi," kata Rusli.
Libatkan Bulog
Seharusnya kata Rusli, pemerintah mempercayakan stabilitas harga minyak goreng kepada Perum Bulog. Sebagai BUMN, Bulog dianggap bisa menangani masalah intervensi harga.
Mengingat Bulog kerap membuka pasar murah di pasar-pasar tradisional untuk menekan harga kebutuhan pokok yang melambung.
"Atau pemerintah butuh bantuan Bulog yang sudah berpengalaman," kata dia.
Lewat Bulog, diharapkan harga minyak goreng selain lebih terjangkau, tetapi juga mudah ditemukan masyarakat kelas bawah yang berbelanja di pasar, bukan di toko ritel modern.
"Ini bisa saja efektif, walaupun kita juga belum tahu pastinya," kata dia mengakhiri.
.png)

Berita Lainnya
BLT Rp600.000 untuk UMKM Hingga Nelayan Cair Bulan Ini
OJK: Tolong Jangan Pinjam ke Pinjol Jika Tidak Ada Penghasilan
Jokowi Cairkan Tunjangan Buat PNS, Intip di Sini Besarannya
BukaOutlet.com Hadir di Gelaran Bisnis Franchise & Kemitraan Internasional IFRA 2025
Jelang Lebaran Idul Adha Harga Cabe Merah Mengalami Sedikit Penurun
Belum Ada Wisatawan Mancanegara Masuk Riau Sejak 2022
Bulog Riau Siap Gelontorkan 1.200 Ton Beras Tanggap Bencana COVID-19
Harga Sawit Melejit, Petani di Kampar Garap Lahan Terbengkalai
Harga Bahan Pokok di Pasar Terapung Tembilahan Naik, Cabe Mencapai 85 perkilo
Mengintip Cantiknya Miss Saigon di Ho Chi Minh
Pasca Dibuka 7 Mei, Bandara SKK II Pekanbaru Masih Sepi
Naik, Neraca Perdagangan Riau Juni 2023 Surplus USD 1,58 Miliar