Pilihan
Jaring Ikan Secara Ilegal, Nelayan Panipahan Rohil Bakar Kapal Pukat Harimau Asal Sumut
PEKANBARU - Sebuah kapal nelayan yang menjaring ikan dengan menggunakan trawl atau pukat harimau asal Sumatera Utara dibakar nelayan Panipahan, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau.
"Benar. Ada satu kapal pukat harimau yang dibakar. Namun tidak ada korban jiwa dalam insiden itu," kata Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Riau, Herman dikutip dari antarariau, Rabu (22/4/2020).
Informasi yang diterima Antara, kapal nelayan yang dibakar itu berasal dari Sungai Berombang, Sumatera Utara. Kapal itu disebut menjaring ikan secara ilegal di wilayah perairan Panipahan, Rokan Hilir dengan menggunakan pukat harimau.
Nelayan setempat telah berulang kali mengusir dan memperingatkan nelayan asal Sumatera Utara yang kedapatan menjaring ikan di wilayah itu. Namun, hal tersebut diindahkan mereka sehingga nelayan setempat yang geram langsung membakar kapal pukat harimau di tengah laut.
Herman mengatakan insiden pembakaran itu terjadi pada Jumat pekan lalu (17/4). Dia memastikan seluruh anak buah kapal (ABK) kapal yang dibakar dalam kondisi selamat dan telah dikirim pulang oleh sesama nelayan ke wilayah asal.
Selain itu, Herman juga mengakui jika konflik nelayan pukat harimau dengan nelayan Panipahan berulang kali terjadi. "Itu kejadiannya sudah berulang-ulang. Nelayan kita sangat mengecam penggunaan pukat harimau karena akan merusak ekosistem laut. Tidak hanya ikan besar, ikan-ikan kecil juga terjaring, terumbu karang rusak," ujarnya.
"Sebenarnya nelayan Panipahan itu welcome, terbuka dengan nelayan daerah lain yang menjaring ikan di sana. Tapi tidak untuk pukat harimau," jelasnya lagi.
Untuk itu, dia menuturkan telah berkoordinasi dengan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sumatera Utara untuk mendiskusikan hal tersebut agar tidak mengeluarkan izin.
Berdasarkan catatan Antara, konflik nelayan pukat harimau dan nelayan lokal Panipahan berulang kali terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Nelayan pukat harimau kerap memasuki perairan Panipahan secara sembunyi pada malam hari dan mereka biasanya berkelompok untuk menjaring ikan menggunakan pukat harimau.
Sementara nelayan Panipahan sejak awal sudah bertekad menjaga ekosistem dengan tidak menggunakan trawl. Tak jarang nelayan turun ke jalan dan demonstrasi agar pihak terkait segera melakukan penertiban, namun usaha itu tidak berjalan dengan baik sehingga nelayan tak memiliki pilihan selain melakukan aksi bakar agar menimbulkan efek jera. (*)
.png)

Berita Lainnya
Pimpinan LAMR Terpilih Berkunjung Kekerabatan Kerajaan Indragiri
Dalam Proses, Usulan Pj Bupati Inhu Sudah di Meja Dirjen Otda
Bupati Zukri Buka Operasi Pasar Pengendalian Inflasi untuk Warga P3KE
Penolakan Tidak Sah, Warga Setuju Pembangunan PLTP: Upaya Provokasi di Balik Blokade Jalan
Atasi 'Teror' Sampah di Pekanbaru, Sabarudi Minta Pemko Gandeng Perusahaan
Harga Kopra Turun, Pinang Kering dan Bokar di Riau Naik Pekan Ini
Pemprov Riau Tunggu Hasil Evaluasi APBD-P 2021 dari Kemendagri
Polda Riau Masih Kumpulkan Sejumlah Dokumen Korupsi BOK di Kampar
Bengkalis Terima Piala Penghargaan KLA Madya
BRIN-BRGM Lakukan Operasi TMC di Riau Hadapi Kemarau
Di Riau, Guru PNS Diancam Pilih Caleg Pesanan
Dandim 0314/Inhil : TMMD Operasi Bhakti TNI