Pilihan
AWG Kibarkan Bendera Indonesia-Palestina di Gunung Raung
Pulanglah, Ali…
Kebijakan Jokowi dan Airlangga di Covid & PEN Banjir Dukungan
Jakarta (INDOVIZKA) - Kebijakan pemerintah di bawah komando Presiden Joko Widodo terkait penanganan pandemi Covid-19 dan perekonomian pada masa tersebut.
Keputusan pemerintah untuk tidak melakukan lockdown berdasarkan survei Indometer menjadi salah satu hal didukung oleh publik.
Alih-alih melakukan lockdown, pemerintah kini menerapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro.
"Keputusan Jokowi untuk tidak melakukan lockdown memberi kesempatan bagi pelaku ekonomi untuk tetap berusaha, meskipun ada sejumlah pembatasan yang diberlakukan," lanjut Direktur Eksekutif lembaga survei Indometer, Leonard SB dalam siaran resminya, Jumat (19/02/2021).
Dukungan tersebut juga tercermin dari tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Jokowi periode kedua ternyata tetap tinggi. Temuan survei Indometer menunjukkan tingkat kepuasan mencapai 70,1%.
"Tingkat kepuasan yang sangat tinggi menunjukkan bahwa Jokowi tetap dipercaya oleh publik," ungkapnya.
Jokowi telah menugaskan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebagai Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN). Lembaga ad hoc ini yang menjalankan perintah Presiden dalam mengendalikan Covid-19 dan pemulihan ekonomi.
Dalam pengendalian Covid-19, selain memperkuat testing, tracing dan treatment, KPCPEN juga mendorong percepatan vaksinasi Covid-19. KPCPEN juga menetapkan kebijakan PPKM Mikro sebagai strategi untuk mengendalikan Covid-19 sambil memulihkan ekonomi.
Sementara itu dari sisi ekonomi KPCPEN juga mendorong kementerian dan lembaga terkait untuk mengeluarkan stimulus dalam rangka pemulihan.
Tak main-main, pemerintah menetapkan Anggaran PEN 2021 sebesar Rp 688,3 triliun dari sebelumnya Rp 579,78 triliun pada 2020. Hal ini karena besarnya anggaran yang dibutuhkan untuk percepatan program vaksinasi.
Di sisi lain, ketidakpuasan publik yang mencapai 25,2% dipengaruhi oleh masih tingginya kasus konfirmasi Covid-19 dan anjloknya perekonomian.
Dia menyebutkan, seperti rendahnya jumlah testing dan tracing, serta pertumbuhan ekonomi yang minus sepanjang 2020. Sementara itu masih ada 4,7% yang menyatakan tidak tahu/tidak menjawab.
"Publik masih melihat sejauh mana vaksinasi bisa digenjot, serta pemulihan ekonomi yang kini mengandalkan kebijakan UU Cipta Kerja dan Lembaga Pengelola Investasi (LPI)," kata Leonard.***
.png)

Berita Lainnya
Kebakaran Kilang Cilacap, Polisi Periksa Saksi dari BMKG
Menelusuri Aliran Uang Bayaran Toilet di SPBU Pertamina
22% Rakyat Indonesia Tidak Percaya Covid-19, Pemimpin Agama Diminta Turun Tangan
Baru 4 Hari Menjabat, Kapolda Jatim Teddy Dikabarkan Ditangkap Dugaan Kasus Narkoba
Tekan Kabar Hoax, Bawaslu,KPU,KPI dan Dewan Pers Bentuk Gugus Tugas Penyiaran Berita
Terbanyak dari Riau Polda Sumbar Berhasil Cegah 7.787 Pemudik
DPR Sahkan Revisi UU Desa Jadi UU, Masa Jabatan Kepala Desa 8 Tahun!
DPR Dorong ASN Terima Bansos Segera Mengundurkan Diri Sebagai Penerima
Tiga Kapal Terbakar di Pelabuhan Muara Angke Subuh Tadi
Ini Bocoran Hal Harus Dikuasai Peserta Tes CPNS 2021
Pembeli Motor Jokowi Rp 2,55 M Tak Paham Lelang, Dikira Dapat Hadiah
Pelat Nomor Kendaraan Warna Hijau Muncul, Buat Apa Fungsinya?