Pilihan
AWG Kibarkan Bendera Indonesia-Palestina di Gunung Raung
Pulanglah, Ali…
Kepala BPKAD Kuansing Tersangka Korupsi SPPD Fiktif
PEKANBARU (INDOVIZKA) - Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kuantan Singingi (Kuansing), Hendra AP, ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) fiktif 2019. Jaksa menemukan bukti terkait keterlibatannya.
Hendra sebelumnya telah diperiksa oleh jaksa penyidik Pidana Khusus Kejaksaan Negeri (Kejari) Kuansing sebagai saksi. Sebelum memenuhi panggilan jaksa, ia dua kali mangkir karena menderita Covid-19.
Kepala Kejari Kuansing, Hadiman, mengatakan, penetapan tersangka terhadap Hendra dilakukan pada Rabu, 10 Maret 2021. "Kami sudah menetapkan Keken sebagai tersangka hari Rabu lalu," ujar Hadiman, Senin (13/3/2021).
Hadiman mengatakan, jaksa penyidik mengagendakan pemeriksa Hendra AP sebagai tersangka pada Selasa (16/3/2021). "Selasa besok, jam 10, diperiksa sebagai tersangka," kata Hadiman.
Disinggung jika Hendra AP tidak menghadiri panggilan pertama sebagai tersangka, Hadiman menyatakan pihaknya akan melakukan pemanggilan ulang.
"Bila Keken tidak hadir, kami akan panggil lagi dengan surat panggilan kedua (untuk diperiksa) hari Jumat. Bila tidak hadir, kami layangkan panggilan ketiga hari Selasa lagi dan langsung kami tangkap dan ditahan," jelas Hadiman.
Hadiman menyebutkan, penetapan tersangka terhadap Hendra AP setelah jaksa penyidik meminfa keterangan saksi dan mengumpulkam alat bukti berupa surat perintah tugas dan SPPD fiktif.
Diketahui, surat pertanggungjawaban (SPj) fiktif ditandatangani oleh Hendra AP sebagai pengguna anggaran. Uang hasil dari SPj fiktif itu digunakan untuk tersangka. "Berdasarkan keterangan saksi, (uang) buat operasional pimpinan," kata Hadiman.
Hadiman menyatakan saat ini jaksa penyidik masih menetapkan Hendra AP sebagai tersangka. "Jika ada perkembangan, kami akan tetapkan tersangka baru," ucap Hadiman.
Berdasarkan perhitungan kerugian negara, sementara perbuatan Hendra AP merugikan negara lebih kurang Rp600 juta. "Angka itu bisa bertambah lagi karena pihak ketiga di luar daerah seperti Jakarta, Padang, dan Batam belum dihitung," tutur Hadiman
Dalam penanganan kasus ini, Kejari Kuansing sudah menyita uang Rp439.634.860 dari BPKAD. Uang yang dari diserahkan oleh Kabid Aset BPKAD Kuansing, Hasvirta Indra ke Kejari Kuansing, Senin (15/2/2021).
Hadiman menyebutkan, alat bukti uang yang diserahkan disinyalir merupakan pembayaran minyak dan ongkos taksi. "Uang itu kita sita dan dijadikan barang bukti pada persidangan Tipikor nanti," kata Hadiman.
Pengembalian itu belum dihitung dari hotel atau penginapan yang ratusan kamar juga diduga fiktif. Hadiman mengungkapkan, tim auditor masih melakukan penghitungan dan dalam waktu dekat akan diserahkan ke jaksa penyidik.
.png)

Berita Lainnya
Ahok pangkas waktu larangan motor lintasi Thamrin-Merdeka Barat
Pengedar Sabu di Kuansing Digrebek, Polisi Temukan Barang Bukti Siap Edar
Hendak Lakukan Transaksi, Seorang Pria Penjual Sabu Diamankan Polsek Keritang
Miliki 52 Gram Sabu, Dua Orang Pengedar Diringkus Polisi
717 Handphone Temuan Lapas Milik Napi se-Riau Dimusnahkan
Ibu dan Anak di Riau Ditemukan Tewas Tak Wajar, Tanpa Pakaian dan Terbungkus
ICW Nilai Wacana Hukuman Mati Koruptor Asabri dan Jiwasraya Cuma Jargon Politik
Para Pelapor dan Terlapor Usulkan UU ITE Tidak Perlu Dihapus
Lakukan Kejahatan di Lima Tempat, Pelaku Jambret Sadis di Riau Ini Dibekuk Polisi
Pelaku Pembunuhan di Gaung Berhasil Diamankan
Nyamar Jadi Pembeli, Polisi Tangkap Pengedar Narkoba di Pekanbaru
2021, Polres Inhil Masih Fokus Berantas Narkoba