Pilihan
AWG Kibarkan Bendera Indonesia-Palestina di Gunung Raung
Pulanglah, Ali…
Menteri PUPR Ingatkan KLHK: Beberapa Daerah Aliran Sungai Kritis
JAKARTA (INDOVIZKA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan adanya rantai informasi yang terputus dalam sistem peringatan dini meteorologi di tanah air. Kondisi ini diungkapkan BMKG di tengah fenomena La Nina bakal muncul beberapa bulan ke depan.
"Tidak sedikit informasi itu yang terputus ke desa," kata kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam rapat koordinasi nasional virtual BMKG, Jumat, 29 Oktober 2021.
Sebelumnya, peringatan dini La Nina sudah disampaikan BMKG sejak 18 Oktober 2021. Saat itu, anomali pendinginan suhu permukaan laut di Samudera Pasific ekuator telah melewati ambang batas kejadian La Nina dan terus meningkat sampai sekarang.
- Ketua Tim Jargas Sebut Kado Ultah ke-26 Pelalawan Dapat Tambahan Kuota 3.076 Jaringan Gas dari APBN
- Aktif Kembali Bumdes Jaya Bersama setelah Fakum Hampir 7 Tahun
- Wabup Husni Tamrin Hadiri Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Lancang Kuning 2025
- Pemerintah Kabupaten Pelalawan Melaksanakan Operasi Pasar Murah Jelang Idul Fitri 1446 H
- Pemkab Pelalawan Sediakan Bantuan Penyebrangan Roda Dua Gratis Melintasi Banjir Jalan Lintas Timur
Sehingga, BMKG akan terjadi fenomena La Nina dengan skala lemah hingga moderat, yang akan berlangsung hingga Februari 2022. Berdasarkan skala yang sama di tahun lalu, BMKG menyebut fenomena ini akan membuat curah hujan naik 20 sampai 70 persen.
Saat ini, kata Dwikorita, BMKG sudah punya 40 radar cara dan ribuan sensor deteksi monitoring di semua daerah. Selama ini, data cuaca atau informasi meteorologi berasal dari siste observasi.
Setelah selesai, berlanjut ke sistem pemrosesan (pengolahan data). Barulah kemudian BMKG melakukan diseminasi informasi ke Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) di provinsi, kabupaten, dan kota.
Sesuai dengan aturan, kata Dwikorita, petugas di BPBD daerah inilah yang harus meneruskan informasi tersebut ke masyarakat. Ada yang tuntas tersampaikan, tapi tak sedikit juga yang terputus berdasarkan pengalaman BMKG selama ini.
Dwikorita menyebut ada tiga penyebab yang diidentifikasi BMKG. Pertama, adanya gangguan bahkan putusnya jaringan listrik dan sinyal komunikasi menjelang cuaca ekstrem. "Ini mohon kita waspadai bersama," kata dia.
Kedua, BMKG juga mencatat adanya kinerja yang kurang maksimal dari sejumlah petugas BPBD di daerah. Contohnya, ada kejadian tidak ada petugas jaga yang piket. Padahal, kata dia, aturan mewajibkan ada petugas piket 24 jam.
Ketiga, rantai informasi ini juga terputus karena terjadi banyak bencana secara bersamaan di satu wilayah. Di beberapa kejadian, jaringan listrik pun terganggu akibat bencana yang datang serempak Sehingga, kondisi ini mengganggu proses pemberian informasi meteorologi sampai ke desa.
.png)

Berita Lainnya
Iuran BPJS Kesehatan per Agustus 2022. Cek Infonya di Sini
DPR Minta Pemerintah Tegas Soal Prokes Saat Libur Nataru
Angin Segar bagi PNS, Besaran Gaji Ke-13 untuk PNS Golongan I hingga IV Diumumkan, Lalu Kapan Cairnya?
Gaji PNS dan Pekerja Swasta akan Dipotong Buat Tapera, Ini Penjelasannya
Jaga Kredibilitas dan Kepercayaan, DD Waspada Serahkan Laporan Tahunan ke Kanwil Kemenag Sumut
Presiden Perintahkan Polri Selektif Terima Laporan UU ITE
Wajib Tahu! Begini Ganti Rugi dan Kompensasi Jika Tiang Listrik PLN Ditanam di Tanah Milik Kamu
Membaik, Menhub Lepas Selang Pernapasan
Amnesty Internasional Sorot Penggunaan Gas Air Mata dalam Tragedi Kanjuruhan
Soal Muktamar NU, Ketua Ikatan Gus Indonesia Laporkan 3 Media ke Dewan Pers
Tito Minta Kepala Daerah Bantu Cari Lahan untuk Pertashop Pertamina
Relaunching AMANAH Dorong Penguatan Karakter dan Kepemimpinan Pemuda Aceh