Pilihan
Gubri Sampaikan Permasalahan Pembangunan di Pulau Sumatera Saat Bertemu Wamendagri
PEKANBARU - Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar menyampaikan beberapa permasalahan pembangunan yang ada di Pulau Sumatera saat bertemu Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) John Wempi Wetipo saat berkunjung ke Provinsi Riau dalam kegiatan rapat koordinasi gubernur (Rakorgub) se Sumatera.
Menurutnya, dalam perumusan kebijakan perencanaan pembangunan, perlu memperhatikan permasalahan-permasalahan pembangunan daerah di Pulau Sumatera.
Ia menerangkan, beberapa permasalahan tersebut antara lain, belum optimalnya pengembangan potensi unggulan berbasis sumber daya alam.
- Banjir Setiap Tahun di Pelalawan, DPRD Riau Minta Pemerintah dan PLN Bertindak
- Pemprov Riau Diminta Serius Berantas Judi Online
- APBD 2025 Diisukan Defisit, Fraksi PKB: Tak Masalah Jika Demi Kepentingan Masyarakat
- Tabligh Akbar di Tembilahan, UAS Sampaikan Dukungan untuk Paslon Bermarwah dan Fermadani
- Targetkan Rampung Akhir November, DPRD Riau Percepat Pembahasan RAPBD 2025
"Belum optimalnya integrasi konektivitas intrawilayah dan antarwilayah dan belum optimalnya hubungan internasional sebagai pintu gerbang perdagangan barang dan jasa," ucapnya, di Premier Hotel Pekanbaru, Kamis (30/6/2022).
Gubri melanjutkan permasalahan berikutnya adalah belum optimalnya pengelolaan dan kualitas belanja APBD dan dana Otonomi Khusus Aceh.
Kemudian, Masih tingginya ketimpangan pembangunan terutama wilayah Sumatera bagian barat, dan tingginya tingkat kemiskinan terutama pada wilayah Sumatera bagian utara.
"Juga belum adanya pusat perdagangan komoditas (trading house) yang terintegrasi, serta masih rendahnya perkembangan usaha koperasi dan UKM sebagai dasar penguatan struktur perekonomian lokal," sebutnya.
Syamsuar menambahkan, permasalahan lainnya adalah belum stabilnya harga komoditi karet dan sawit yang diikuti dengan turunnya kualitas produk, serta kurang kompetitifnya harga gas untuk kegiatan industri sehingga menghambat laju produktivitas industri.
Kemudian, masih terdapatnya praktek penangkapan ikan ilegal (illegal fishing), serta praktik penanaman, perdagangan, dan pemanfaatan tanaman ganja secara ilegal. Tingginya potensi konflik pada kawasan perbatasan Natuna, khususnya di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).
Serta masih rentannya ketahanan fisik dan sosial atas perubahan iklim, bencana, polusi, dan abrasi pantai khususnya pulau-pulau di perbatasan negara, serta rentan terhadap kesenjangan sosial dan kemiskinan perdesaan dan perkotaan.
"Untuk itu melalui pertemuan ini kita harapkan adanya sinergitas antar provinsi di Sumatera untuk membangun daerah," tutupnya.
.png)

Berita Lainnya
Besok, Raja Isyam Azwar Deklarasikan Diri Maju Sebagai Calon Ketua PWI Provinsi Riau Masa Bakti 2023-2028
Jalin Kerjasama, Pengurus Rumah Yatim Silaturahmi dengan Ketua PWI-SMSI Riau
Geger, Bayi Laki-laki Ditemukan Warga di Pinggir Jalan
Tembilahan Sering Terjadi Kebakaran, Ini Kata DPKP Inhil
Ini Hasil Rapat Tim Teknis Penanganan Banjir Sungai Batang Tuaka
Putusan MK Hasil PHP Pilkada Inhu dan Rohul Dibacakan Hari Ini, Kedua Pihak 'Pede' Menang
Sejumlah Rumah di Jalan Swadaya Pekanbaru Terendam Banjir
Disdukcapil Serahkan 5 Kartu KIA Secara Simbolis Kepada Forum Anak
Semarak Hari Bhayangkara ke-80, Fun Run Polres Pelalawan Diikuti 800 Peserta
Tutup Buku Tahun 2025, Dana Tabungan BRK Syariah Tumbuh 7 Persen
Bank Riau Kepri Syariah Tembilahan Salurkan 1 Ton Beras dan 66 Kotak Indomie ke BPBD Inhil
Gerakan Mahasiswa Anti Korupsi Minta Kejati Riau Tuntaskan Dugaan Korupsi di Pelalawan