Pilihan
AWG Kibarkan Bendera Indonesia-Palestina di Gunung Raung
Pulanglah, Ali…
Orang Tua Tewas pada Tragedi Kanjuruhan, Bocah 11 Tahun ini Jadi Yatim Piatu
MALANG-Pasangan suami-istri Muhammad Yulianto (40) dan Devi Ratna S (30) menjadi korban meninggal dunia dalam tragedi Kanjuruhan Malang. Sementara anak laki-lakinya, Muhammad Alfiansyah (11) berhasil selamat setelah terpisah dari kedua orang tuanya.
Adik korban, Doni yang juga menyaksikan laga Arema FC dan Persebaya Surabaya, awalnya menemukan adik iparnya, Devi Ratna S. Dia mengenali celana adiknya saat dibopong oleh suporter lain. Saat ditemukan kondisi Devi sudah meninggal dunia.
"Ada yang menggotong dari suporter lain. Saya lihat celananya kok Mbak Iparku, ternyata benar," kata Doni di rumah duka Jalan Bareng Raya 2, Kelurahan Bareng, Kota Malang, Minggu (2/10).
Setelah menata jenazah, Doni bergegas mencari suami Devi, karena memang saat berangkat mereka bersama-sama. Tidak begitu jauh dari posisinya, dia melihat kakaknya diangkat suporter.
"Setelah itu spontan saya mencari suaminya. Saya lihat ada yang dibopong suporter dan saya lihat benar juga, itu mas saya," ungkapnya.
Doni bersama tetangganya selanjutnya mengumpulkan jenazah keduanya di sekitar pintu 14. Doni masih kebingungan mencari Muhammad Alfiansyah anak dari pasangan tersebut.
Tidak lama kemudian Doni menemukan Alfiansyah. Karena saat terjadi desak-desakan terpisah dan diselamatkan polisi. Alfiansyah sendiri saat itu belum mengetahui kalau kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.
"Sama polisi dibawa keluar. Saya tanya mamamu di mana? Dia jawab di dalam," ungkapnya.
Jenazah keduanya sempat dibawa ke medis stadion dan dinyatakan meninggal dunia. Sekitar satu jam jenazah menunggu dibawa ke rumah sakit dengan truk polisi.
Jenazah dibawa ke Rumah Sakit Teja Husada sebelum kemudian dibawa pulang, Minggu (2/10) dini hari. "Kemungkinan karena desak-desakan terjatuh. Ada lebam di mata dan bibir," terangnya.
Saat kejadian, kata Doni, korban menonton antara papan skor dan pintu 11. Korban kemungkinan terjatuh dari tangga di pintu keluar.
Awalnya polisi menembakkan gas air mata ke lapangan saat suporter ricuh. Polisi juga menembak ke arah tribun atas.
"Otomatis semburat lari keluar. Desak-desakan akhirnya banyak korban itu. Terutama kakak saya juga," ungkapnya.
Doni memastikan sebelum ditembakkan gas air mata, tribun 14 masih kondusif. Tetapi kemudian meluncur tembakan gas air mata hingga membuat penonton berhamburan.**
.png)

Berita Lainnya
DPR Sebut Kedisiplinan di Institusi TNI dan Polri Perlu Dibenahi
Hari Ini Pemerintah Evaluasi PPKM Seluruh Daerah
3.517 Wartawan Lolos Seleksi Fellowship Perubahan Perilaku
Ingat, Mulai Juli 2020 Orang Kaya Tak Bisa Lagi Beli Elpiji 3 Kg
Keluarga Anggota DPR Ikut Jadi Penerima Vaksin Gratis
Prodi Kedokteran dan Prodi Teknik Informatika Universitas Abdurrab Raih Akreditasi B
Urutan 21 di Indonesia, Capaian Vaksinasi Dosis 1 Riau Sudah 65,21 Persen
2 Helikopter dan 3 Kompi TNI Dikerahkan Evakuasi Korban Erupsi Semeru
Minyak Goreng Murah Sulit Terjamah
Menko Airlangga Hartarto Gandeng Malaysia Hadapi Kampanye Negatif Sawit di Pasar Dunia
Acuhkan Kaidah Uji Klinis BPOM, Sejumlah Tokoh Hingga Wakil Rakyat Ikuti Tahapan Vaksinasi Nusantara
THR ASN Dibayarkan H-10 Idul Fitri