Pilihan
Koordinasi Fiskal-Moneter Diperkuat, Rupiah dan Stabilitas Ekonomi Tetap Terjaga
JAKARTA, INDOVIZKA - Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) terus memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan dan dinamika global. Langkah tersebut dilakukan melalui kebijakan yang responsif guna menjaga nilai tukar rupiah, stabilitas pasar keuangan, serta mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa kenaikan suku bunga acuan BI atau BI Rate merupakan langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memberikan sinyal positif kepada pasar di tengah ketidakpastian global. BI sebelumnya menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen sebagai upaya memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi tetap terkendali.
“BI Rate itu naik karena mengutamakan kestabilan. Jadi dengan BI-Rate naik, kelihatan respons daripada IHSG juga baik, masuk dalam green zone. Kemudian yang kedua, rupiah juga sedikit menguat,” kata Airlangga.
Respons pasar terhadap kebijakan tersebut menunjukkan perkembangan positif. Nilai tukar rupiah mengalami penguatan, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mencatat kenaikan signifikan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar melihat kebijakan pemerintah dan BI sebagai langkah yang tepat dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional.
Menurut Airlangga, kebijakan tersebut mencerminkan respons cepat pemerintah dan otoritas moneter dalam menghadapi gejolak ekonomi global.
“Market melihat Indonesia responsif terhadap gejolak ataupun situasi yang ada sekarang,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, pemerintah dan BI juga sepakat memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Koordinasi tersebut menjadi bagian dari upaya bersama dalam menghadapi tekanan eksternal sekaligus menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan pentingnya penyelarasan kebijakan fiskal dan moneter agar mampu memberikan dampak yang lebih kuat terhadap perekonomian nasional.
"Penguatan koordinasi fiskal-moneter itu terus kita lakukan dan saat ini adalah memang difokuskan, bagaimana fiskal dan moneter seirama, saling mendukung, saling memperkuat, dengan kewenangan masing-masing untuk memperkuat upaya-upaya bersama melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah," ungkap Perry Warjiyo.
Pemerintah optimistis fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Dengan sinergi kebijakan yang semakin solid, stabilitas ekonomi nasional dapat terus terjaga sekaligus memperkuat kepercayaan pasar di tengah tantangan global. ***
.png)

Berita Lainnya
Google "Bersih-Bersih" Aplikasi Penuh Iklan dari Play Store
Akibat Penurunan Harga, Target Produksi Minyak Mentah Riau Dipangkas
Harga Minyak Goreng Curah di Sejumlah Pasar Tembilahan Masih Diatas Harga Het
Disperindag UMKM Riau Akan Gelar Operasi Pasar saat Ramadhan
Membongkar Penyebab Ketimpangan Ekonomi Indonesia
Pemerintah Telah Gelontorkan PMN Rp 695,6 T Sejak 2005
Meski Gampang Didapat, Minyak Goreng Lebih Mahal di Pasar Tradisional
Baznas Inhil Launching Pelatihan Penguatan Ekonomi Mustahik
Naik, Harga Kelapa Sawit Mitra Swadaya di Riau Rp 2.451 per Kg
KBI dan Bappebti Dorong Masyarakat Manfaatkan Sistem Resi Gudang
Hari ini Minyak Goreng Harga Rp11.500 Mulai Berlaku
Inhil Siapkan Empat Pasar di Tengah Pandemi Covid-19