Pilihan
AWG Kibarkan Bendera Indonesia-Palestina di Gunung Raung
Pulanglah, Ali…
Epidemiolog Ungkap 20 Persen Pasien Terjangkit Varian Omicron Butuh Perawatan ICU
JAKARTA (INDOVIZKA) - Epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan, sekitar 18 sampai 20 persen pasien yang terjangkit varian Covid-19 Omicron membutuhkan ventilator atau perawatan di ruang Intensive Care Unit (ICU) rumah sakit. Varian Omicron pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan.
"Data ini juga memberikan pesan bahwa belum bisa kita katakan bahwa varian (Omicron) ini menyebabkan gejala ringan," katanya kepada merdeka.com, Rabu (1/12).
Dicky menyebut, mayoritas orang yang terinfeksi varian Omicron di Afrika Selatan merupakan dewasa muda. Mereka cenderung hanya mengalami gejala ringan. Temuan sementara menduga, kelompok dewasa muda yang terpapar varian Omicron ini pernah terinfeksi varian Delta.
- 6 Manfaat Rebusan Daun Dibawah Ini Bisa Turunkan Gula Darah
- Dinkes Pekanbaru Anggarkan Layanan Kesehatan Doctor On Call
- Dinkes Inhil Gelar Pembekalan Kesehatan kepada 303 Calon Jama'ah Haji
- Dinkes Inhil Canangkan BIAN se-Kecamatan Tembilahan Hulu
- Menderita Jantung Bocor, Balita di Tembilahan Ini Butuh Bantuan
"Ada potensi mereka pernah terpapar Delta variant makanya memiliki imunitas yang setidaknya juga memberikan proteksi sehingga mereka bisa bergejala ringan atau sedang," jelasnya.
Menurut mantan Kepala Kerjasama Bilateral Kesehatan Kementerian Kesehatan ini, varian Omicron sangat cepat menular. Terlihat dari kasus Covid-19 yang tersebar di Afrika Selatan didomisasi Omicron, ketimbang Delta. Padahal, varian Omicron baru terdeteksi pada 9 November 2021.
"Secara kasar, Omicron ini hanya butuh waktu kurang lebih tiga minggu untuk mendominasi. Kalau Delta itu perlu waktu kurang lebih tiga bulan," ujarnya.
Dicky menuturkan, vaksin masih efektif melawan varian Omicron. Namun, belum diketahui seberapa besar efektivitas vaksin dalam menaklukkan varian yang memiliki mutasi sebanyak 59 itu. Dari total 59 mutasi Omicron, 32 di antaranya terjadi pada spike protein.
"Kita tahu spike protein ini adalah target dari vaksin sudah terdeteksi oleh antibodi. Nah kalau spike protein ini bermutasi, tentu ada potensi penurunan efikasi atau less efikasi dari vaksin. Tapi ini yang masih kita tunggu," kata Dicky mengakhiri.
Sejumlah negara di dunia telah terpapar varian Omicron. Di antaranya Jepang, Australia, Austria, Belgia, Botswana, Kanada, Republik Ceko, Denmark, Jerman, Hong Kong, dan Israel. Kemudian, Italia, Belanda, Portugal, Afrika Selatan, Spanyol, dan Inggris Raya.
.png)

Berita Lainnya
Dari 2022 Hingga 2024 Prevelensi Stunting di Desa Intan Mulya Jaya Terus Menurun
Dinkes Inhil Ingatkan Masyarakat Pentingnya Menimbang Anak Setiap Bulan
Pasien Over Kapasitas, Puskesmas Kotabaru Layak Dijadikan RSUD
Siaga Flu Burung, Pemrov Riau Siapkan Ruangan Isolasi
Kabar Gembira, 96 Persen Nakes di Riau Terpapar Covid-19 Sembuh
Jumlah Perokok di Indonesia Sebesar 33,8 Persen
Riau Pastikan Stok Vaksin Covid-19 Masih Aman
Pemprov Riau Siapkan 10 Hektar Lahan Untuk Bangun Rumah Sakit Khusus Jantung
Cara Menjaga Kesehatan Mental Anak yang Perlu Orang Tua Ketahui
Amankah untuk Pekerja Kantoran Olahraga di Malam Hari? Ini Penjelasannya...
22.840 Vaksin Sinovac Tahap 2 Akan Didistribusikan di 9 Kabupaten di Riau
Bupati Inhil Ajak Masyarakat Ikuti Bakti Sosial Operasi Katarak Gratis dari Baznas Inhil