Pilihan
AWG Kibarkan Bendera Indonesia-Palestina di Gunung Raung
Kekhawatiran Varian Omicron Buat Kurs Rupiah Melemah ke Level Rp14.373 per USD
JAKARTA (INDOVIZKA) - Nilai tukar Rupiah ditutup melemah di level Rp14.373 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp14.366 per USD. Sedangkan untuk perdagangan selanjutnya, mata uang Rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp14.350 hingga Rp 14.410 per USD.
Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim mengatakan, proteksi International Monetary Fund (IMF) soal pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan sebesar 4,9 persen pada 2022 masih berpotensi turun akibat varian Covid-19 baru Omicron.
"Di sisi lain, adanya varian baru Omicron sekaligus gangguan rantai pasok kembali menekan kegiatan perekonomian yang mulai pulih pada kuartal keempat 2021," katanya dalam riset harian, Jakarta, Jumat (10/12).
- Pemerintah Teguhkan Semangat Reformasi Lewat Perlindungan Kebebasan Pers
- Ketua Tim Jargas Sebut Kado Ultah ke-26 Pelalawan Dapat Tambahan Kuota 3.076 Jaringan Gas dari APBN
- Aktif Kembali Bumdes Jaya Bersama setelah Fakum Hampir 7 Tahun
- Wabup Husni Tamrin Hadiri Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Lancang Kuning 2025
- Pemerintah Kabupaten Pelalawan Melaksanakan Operasi Pasar Murah Jelang Idul Fitri 1446 H
Gangguan rantai pasok yang terus terjadi berimplikasi pada ekonomi tahun depan. Krisis ini dinilai akan memiliki dampak berkepanjangan atau scarring effect yang bertahan lama pada ekonomi dan kelompok rentan.
"Mengingat varian Omicron menciptakan ketidakpastian Covid-19 menjadi lebih agresif," kata Ibrahim.
Krisis Makin Dalam
Terlebih lagi, krisis akan semakin dalam seiring adanya tekanan inflasi yang dapat menyebabkan pengetatan kebijakan moneter secara lebih cepat dari perkiraan di negara maju. Tekanan inflasi dan pengetatan kebijakan moneter ini akan memperketat kondisi keuangan global dengan beberapa potensi limpahan di emerging market dan negara berkembang.
Dengan turunnya proyeksi IMF terhadap pertumbuhan ekonomi global, akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2021. Sedangkan sebelumnya pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di 4 persen.
"Pemerintah perlu merevisi pertumbuhan ekonomi dan bisa diumumkan di Desember 2021, agar pasar kembali optimis terhadap perekonomian Indonesia yang saat ini relatif lebih baik dibandingkan dengan negara Asia lainnya," tandasnya.
.png)

Berita Lainnya
Harga Emas Antam Turun jadi Rp 1.006.000 per Gram
Sistem Elektronik Dorong Peningkatan Jumlah Investor Pasar Modal
Yuk, Ketahui Cara Hitung Besaran kWh dari Setiap Pembelian Token Listrik PLN
BSP Hasilkan Laba Bersih Rp381 Miliar Tahun Buku 2022
Maret 2021, Tembilahan Alami Deflasi 0,07 Persen
Indef: Lowongan Kerja di Situs Pencari Kerja Berkurang
Seluruh PNS, TNI dan POLRI Wajib Laporkan Harta Kekayaan
BI: Rupiah Jadi Mata Uang Terbaik di Asia
Sri Mulyani Terbitkan Aturan Baru, Pegawai Telat Masuk Kantor Tunjangan Dipotong
9 Produk Implora Paling Laris Dipasaran
Dorong Ekonomi Rakyat, Warga Diminta Manfaatkan Lahan Kosong
Mengenal Lebih Dekat Ikan Dewa, Harganya Jutaan dan Selalu Diburu Jelang Imlek