Pilihan
Kemendikbud: Lulusan SMK Bisa Dapat Gelar D2
JAKARTA - Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbud akan melakukan sinkronisasi pendidikan SMK dengan jenjang diploma dua (D2).
Program SMK fast track ini memungkinkan pelajar sekolah selama 4,5 tahun sehingga bisa mendapatkan gelar D2 setelah lulus. Program tersebut melibatkan dunia industri dan pendidikan tinggi.
Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbud Wikan Sakarinto mengatakan, gagasan tersebut mempertimbangkan pola pendidikan vokasi di Jepang.
- Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil Politeknik Negeri Bengkalis sukses menyelenggarakan Kegiatan Civil V
- DPRD Riau Desak Disdik Bertindak Cepat Soal Sekolah Terlambat Ikut SNBP
- PSP Unri Sambut Mahasiswa Baru Dengan Kegiatan PKKMB
- Menteri Pendidikan Ubah Batas Minimal Usia Anak Masuk SD, Simak Faktanya
- Bahas Hoaks dalam Dunia Pendidikan
Bahkan ketika menempuh pendidikan di jenjang vokasi, pelajar dapat menempuh pendidikan hingga S2 terapan di luar negeri.
"Jadi SMK dinikahkan massal dengan D2. Seperti SMK di Jepang, SMK lima tahun," ucap Wikan, seperti dikutip dari laman resmi Kemendikbud.
Meski begitu, program ini tidak memperpanjang studi hingga lima tahun. Ia juga mengatakan tidak semua SMK nantinya dengan masa pembelajaran selama empat tahun.
"Kami sedang merancang SMK fast track yakni ada empat tahun dan ada yang 4,5 tahun. Tapi itu tidak semua, ada yang tetap tiga tahun tergantung programnya. Kalau cukup tiga tahun tidak harus nambah waktu," ujarnya, dikutip dari Antara.
Tidak Wajib untuk Semua SMK
Dalam rancangannya, SMK fast track terdiri dari sembilan semester. Semester satu sampai lima pembelajaran di sekolah, semester enam praktik kerja industri, semester tujuh belajar di kampus, dan semester delapan sampai sembilan magang di industri dalam atau luar negeri.
Pada program tersebut, begitu lulus pelajar akan menerima ijazah SMK, ijazah D2, sertifikat kompetensi, serta sertifikat lulus magang.
"Program SMK fast track ini tidak otomatis wajib di seluruh SMK," jelas dia.
Wikan menargetkan penerapan SMK fast track tersebut dapat berjalan tahun depan. Untuk tahap awal, proyek percontohan dilakukan di 10 sekolah.
Ia meyakini jika dirancang dengan serius maka SMK akan menghasilkan lulusan yang kompeten.
"Program ini belum diputuskan dan terus digodok agar lebih baik lagi," lanjutnya.**
.png)

Berita Lainnya
13 Santri dan Santriwati TPQ Al Faruqi Khatam Iqro
Mangsa Hewan Ternak, Buaya 3 Meter Ditangkap Warga
Anggaran Bosda SMA/SMK Riau 2020 Rp443 Miliar
10 Pelajar SMA/SMK di Riau Ikuti Lomba Karya Ilmiah
Tahun Ajaran Baru Belum Jelas, Serikat Guru Harap-Harap Cemas
Rokan Hulu Buka Sekolah Tatap Muka Senin Depan
Lantik 188 Kepala SMA/SMK dan SLB, Gubri Minta Laporkan Lapor jika Ada Oknum Pemeriksa Inspektorat Nakal
Siswa SMA di Riau Tidak Lulus Hanya 0,5 Persen, Ini Sebabnya
Mulai 10 Mei, Sekolah di Inhil Diliburkan
Mendikbud: Sekolah Baru Akan Dibuka Jika Pandemi Sudah Reda
Kepala Sekolah SD dan SMP Banyak Dijabat Plt, Begini Kata Disdik Pekanbaru
Edukasi Sikap Cekat Tanggap Terhadap Bencana Alam, PAUD Nurul Falah Kunjungi BPBD Inhil