Usai Retret, Dimana Nasionalisme dan Kebangsaan PWI

Muhammad Sarwani

“Pagiiii !” teriak Komandan Latihan Retret Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Kolonel Inf Sunardi Istanto di hadapan 163 anggota organisasi wartawan tertua dan terbesar yang berasal dari berbagai daerah di Tanah Air di Aula Bela Negara Pusat Kompetensi Bela Negara (Puskombelneg) Kementerian Pertahanan, Rumpin, Bogor, 29 Januari 2026.

Yel yel itu spontan disambut peserta retret PWI dengan volume suara yang semakin meninggi di teriakan berikutnya.
“Pagi!”
“Pagi!“
“Pagi!”
“PWI Luar Biasa!”

Usai yel yel peserta retret PWI, Kolonel Inf Istanto menoleh ke arah bendera Merah Putih yang tertancap di tiang di atas podium Aula Bela Negara. “Bendera Merah Putih tidak bergerak, masih diam begitu,” ujarnya.

“Coba ulangi sekali lagi”
Yel yel ‘Pagi’ kembali digaungkan di ruang seluas sekitar 20 m2X 35 m, namun bendera Merah Putih bergeming. Ia tetap dalam posisi terjuntai diam.

“Seharusnya bendera itu bergerak,” ujar Kolonel Inf Istanto sambil tersenyum seperti ingin mengatakan bahwa semangat bela negara para peserta retret PWI kurang kuat.

Apa yang disampaikan oleh Kolonel Inf Istanto bisa jadi merupakan sindiran kepada para wartawan yang tergabung di PWI bahwa semangat bela negara, bangsa, dan tanah air mereka sudah mengendur, melempem. Padahal PWI-lah yang dalam sejarahnya merupakan tonggak utama perjuangan bangsa Indonesia dalam menegakkan kedaulatan melalui karya jurnalistiknya.

Sejarah mencatat wartawan Indonesia berjuang menegakkan kedaulatan negara, membakar semangat nasionalisme melalui pengumpulan informasi yang ditulis dengan pena dan menyebarkannya melalui media cetak stensilan yang ada saat itu, berita-berita seputar perjuangan bangsa, pernyataan proklamasi di tengah tekanan penjajah dan propaganda asing.

Pers Republiken milik pribumi menjadi alat perjuangan dalam menyuarakan kemerdekaan dan memperkokoh persatuan bangsa melawan penjajah asing, membangkitkan semangat perlawanan terhadap penjajahan, sekaligus mencerdaskan bangsa.

Klimak perjuangan para kuli tinta itu dinyatakan dalam Kongres wartawan yang digelar pada 8-9 Februari 1946 di Solo yang menegaskan pers harus menjadi alat untuk mempertahankan kedaulatan negara. Jejak sejarah ini bisa dilihat di Monumen Pers Nasional yang menjadi tempat kongres yang masih berdiri tegak hingga kini.

Dalam perjalanan waktu, pers perjuangan bergeser menjadi pers industri seiring dengan mulai masuknya modal besar di dunia pers. Pemilik modal memberikan perhatian pada modernisasi pers dengan menyediakan teknologi cetak yang canggih, penyiaran berita melalui tv, radio, dan internet.

Di satu sini industrialisasi pers meningkatkan kecepatan pemberitaan, memperluas jangkauan, dan memberikan kesejahteraan lebih baik kepada para wartawan, di sini lain muncul masalah independensi, konflik kepentingan, melemahnya semangat nasionalisme, dan menjadi alat kepentingan pemilik modal.

Situasi tersebut tanpa sadar mempengaruhi mentalitas sejumlah wartawan sehingga muncul fenomena ‘wartawan amplop’, ‘bodrex’, ‘tukang pelintir’ dan lain-lain.

Melalui retret, kita disadarkan untuk kembali kepada tugas mulia seorang wartawan seperti yang dideklarasikan oleh para senior-senior di Solo 80 tahun lalu, yang juga diingatkan oleh tema pada kegiatan retret kali ini, yakni ”Memperkuat Pers yang Profesional, Berintegritas dan Berwawasan Kebangsaan untuk Ketahanan Informasi, Demokrasi, dan Keamanan Nasional”.

Perlunya meningkatkan rasa nasionalisme dan kebangsaan wartawan juga menjadi pesan penting yang disampaikan oleh Menteri Pertahanan RI Sjafie Sjamsoeddin yang turut memberikan pembekalan dalam retret PWI yang berlangsung selama empat hari itu.

Menhan menyebut insan pers memiliki peran strategis sebagai “penjuru perang opini” yang tengah dihadapi bangsa. Wartawan dituntut selalu mengikuti perkembangan informasi agar mampu membaca potensi ancaman sejak dini dan menyiapkan langkah antisipasi.

Antisipasi tersebut, lanjut Menhan Sjafrie, harus berpijak pada kepentingan nasional dengan tujuan utama melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Tugas ini bukan semata tanggung jawab aparat pertahanan, melainkan kewajiban seluruh rakyat untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI.

Sebagai insan pers sangat diharapkan update terhadap perkembangan yang ada, tidak boleh ketinggalan informasi, mempunyai suatu antisipasi. Dimana antisipasi yang disiapkan itu harus menjaga kepentingan nasional.

”PWI ditantang untuk menjadi penjuru dari insan pers yang nasionalis dan punya wawasan kebangsaan,” ujar Menhan usai makan siang bersama dengan peserta retret.

Pesan pentingnya bela negara juga ditekankan oleh Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Pertahanan (Ka BPSDM) Mayor Jenderal TNI Ketut Gede Wetan Pastia  pada saat penutupan pelatihan di pusat latihan Batalyon 13 Grup 1 Kopassus Bogor dan Kapusdiklat Bela Negara Badiklat Kemhan Brigjen TNI Ferry Trisnaputra sebagai pengelola tempat retret PWI.

Sambil menyeruput mie rasa kari ayam, oleh-oleh selama pendidikan dan latihan bela negara, dan melirik lencana Bela Negara NKRI berwarna kuning emas, saya mengingat kembali materi-materi yang disampaikan oleh para widyaiswara (pengajar) Puskombelneg dan merenung, akankah nasionalisme dan kebangsaan wartawan akan kembali bangkit setelah mengikuti retret? Jawabannya kembali kepada masing-masing peserta retret.

Penulis:
Muhammad Sarwani/Peserta Retret PWI Bela Negara
Wakil Ketua Departemen Ekuin PWI Pusat

 

 






[Ikuti Indovizka.com Melalui Sosial Media]


Tulis Komentar