Pilihan
AWG Kibarkan Bendera Indonesia-Palestina di Gunung Raung
Pulanglah, Ali…
Akibat Stok Beras Menumpuk di Bulog Negara Berpotensi Rugi Rp 1,25 Triliun, DPR: Tidak Ada Alasan Impor
JAKARTA (INDOVIZKA) - Hingga 14 Maret 2021 Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Badan Urusan Logistik (Bulog) hasil pengadaan dalam dan luar negeri (impor) di tahun 2018 hingga 2019, masih menumpuk sebanyak 859.877 ton. Dengan kondisi mulai terancam tidak layak konsumsi atau turun mutu, sehingga berpotensi mengakibatkan kerugian negara hingga Rp 1,25 triliun.
Karenanya Anggota Komisi IV DPR Effendi Sianipar yang membidangi urusan pertanian, mengaku kaget atas data temuan dari Ombudsman RI itu. Sehingga dipastikan DPR tidak akan mengizinkan wacana impor beras yang baru-baru ini disampaikan oleh Menteri Perdagangan (Mendag) M. Luthfi.
"Sudah jelas, kalau jumlah yang menumpuk itu begitu banyak. Potensi beras turun mutu itu bisa mencapai angka 500 ribu ton dan tentunya kalau sudah tidak layak konsumsi, negara akan mengalami kerugian besar. Jadi dengan tegas. Tidak akan ada alasan lagi untuk Mendag melakukan impor beras, sekalipun setelah lewat massa panen raya," ujar Effendi kepada wartawan, Rabu (24/3/2021) di gedung Parlemen DPR.
Politisi PDI Perjuangan itu menegaskan, pihaknya di Komisi IV akan menindaklanjuti hasil temuan dari Ombudsman RI itu dengan memanggil Ombudsman RI, Mendag M. Luthfi dan Kepala Bulog Budi Waseso.
"Saya akan usulkan kepada pimpinan Komisi IV untuk memanggil Mendag dan Bulog, kita akan tindak lanjuti. Apa penyebab beras cadangan itu menumpuk? Mengapa Bulog tidak bisa mendistribusikan dan menjualnya ke masyarakat," tegasnya.
Sebelumnya Ombudsman RI, dalam konferensi pers virtual, Rabu (24/3/21) kepada wartawan mengatakan stok beras di Bulog saat ini banyak diisi oleh beras yang kualitasnya sudah menurun, nilainya hampir 50 persen dari stok beras secara keseluruhan.
"Beras turun mutu di gudang Perum Bulog salah siapa? Nilainya besar, terdapat sekitar 300-400 ribu ton beras yang ada di gudang perum Bulog saat ini turun mutu dan berpotensi mengalami kerugian. Jika setengahnya saja sudah nggak layak konsumsi, maka potensi kerugian negara sebesar Rp 1,25 triliun," kata Anggota Ombudsman Yeka Hendra Fatika.
Sejak 2018-2020, Ombudsman menilai pemerintah mampu menahan gejolak harga beras. Meski di awal 2018 sempat ada kenaikan harga, namun pertengahan 2018 hingga kini harganya tergolong stabil. Selama tiga tahun, komoditas ini memiliki nilai Rp 747 triliun.
Namun, tetap saja nilai kerugian yang ada di gudang Bulog sangat besar. Kerugian besar itu akibat beras yang sudah ada di Gudang Bulog selama tiga tahun itu tidak bisa terdistribusikan dengan lancar. Bulog tidak bisa menjualnya secara langsung ke masyarakat, berbeda dengan sebelumnya dimana ada aturan Bulog boleh menjual beras melalui outlet rastra atau beras sejahtera yang dulu namanya beras miskin atau raskin.
"Stok beras di Bulog per 14 Maret (2021) sebanyak 883.585 ton, sebesar 859.877 ton merupakan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) serta 23,7 ribu ton di antaranya adalah beras komersil. Dari jumlah stok CBP yang ada saat ini terdapat stok beras yg berpotensi turun mutu sebesar 400 ribu ton yang berasal dari pengadaan dalam negeri selama 2018-2019 dan pengadaan luar negeri melalui importasi di 2018," jelasnya.**
.png)

Berita Lainnya
Berpeci Hitam, di Hadapan PP Muhammadiyah Kapolri Nyatakan Siap Dikritik
Program Subsidi Tagihan Listrik Diperpanjang? Ini Penjelasan PLN
Resmi Jadi KSAD, Harta Jenderal Dudung Abdurachman Hanya Rp 1 Milyar
Indonesia Hemat Rp13 Triliun dari Kerja Sama Bilateral Vaksin Covid-19
Kiamat PNS Mendekat, Pegawai Bisa Diganti Robot?
Buru Travel Gelap Angkut Pemudik, Korlantas Polri Siagakan 333 Titik Penyekatan
6 Resep Puding Yogurt Lezat dan Segar
Berdasarkan Bukti Otentik, Panglima TNI: Seluruh Awak KRI Nanggala-402 telah Gugur
Klaim Covid-19 di Rumah Sakit Pada 2021 Naik Dua Kali Lipat Jadi Rp 90 T
Tol Pekanbaru-Padang Lewati Terowongan 14 Km di Limapuluh Kota
Agar Pengusaha Bayar THR Penuh dan Tepat Waktu, Disnakertrans Diminta Aktif Mengawasi
Permodalan Menjadi Masalah Utama Bagi Koperasi di Tengah Dampak Covid-19