Pilihan
Daerah Diminta Waspada Hadapi Dampak La Nina
JAKARTA (INDOVIZKA) - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Ganip Warsito meminta daerah rawan bencana hidrometeorologi meningkatkan kewaspadaan dan langkah mitigasi menghadapi fenomena La Nina. Badai La Nina diprediksi berlangsung sampai awal tahun depan.
"Pada level yang lebih kecil, yaitu kabupaten/kota, kewaspadaan serta mitigasi dampak La Nina mutlak dilakukan," kata Kepala BNPB Ganip dalam Rapat Koordinasi Antisipasi La Nina yang diadakan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), yang dipantau secara daring dari Jakarta, Jumat (29/10).
Secara khusus, Ganip menyoroti beberapa provinsi yang mencatatkan bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan tanah longsor terbanyak pada 2016-2020. Menurut data BNPB, daerah itu yakni, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.
- Pemerintah Teguhkan Semangat Reformasi Lewat Perlindungan Kebebasan Pers
- Ketua Tim Jargas Sebut Kado Ultah ke-26 Pelalawan Dapat Tambahan Kuota 3.076 Jaringan Gas dari APBN
- Aktif Kembali Bumdes Jaya Bersama setelah Fakum Hampir 7 Tahun
- Wabup Husni Tamrin Hadiri Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Lancang Kuning 2025
- Pemerintah Kabupaten Pelalawan Melaksanakan Operasi Pasar Murah Jelang Idul Fitri 1446 H
Dia memberi contoh bagaimana di Jawa Barat, kabupaten/kota yang memerlukan atensi karena kejadian bencana yang tinggi, seperti Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bandung.
Sedangkan di Jawa Tengah adalah Kabupaten Cilacap, Kota Semarang dan Kabupaten Banyumas. "Upaya mitigasi dan kesiapsiagaan jangka pendek dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi basah dapat dilakukan, di antaranya dengan lima langkah, yakni kita perlu melakukan apel kesiapsiagaan," jelas Ganip.
Apel itu dilakukan untuk memeriksa kesiapan personel, alat dan sarana pendukung lainnya. Upaya lain adalah segera menyusun rencana kontinjensi dari dampak bencana hidrometeorologi yang disebabkan La Nina. Langkah lain adalah penyiapan status siaga darurat di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Upaya mitigasi yang perlu dilakukan adalah penanaman vegetasi, pembersihan saluran air, pembenahan tanggul sungai, penguatan lereng menggunakan beton maupun vegetasi, serta optimalisasi drainase permukaan.
Selain itu, melakukan upaya kesiapsiagaan yang berbasis masyarakat dengan memonitor peringatan dini dari BMKG. BMKG melakukan monitor adanya fenomena La Nina lemah sampai akhir tahun dan kondisi itu akan terus bertahan sampai Februari 2022 dengan level menengah. Fenomena La Nina berpotensi meningkatkan curah hujan yang juga mendorong peningkatan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor
.png)

Berita Lainnya
Speedboat Tujuan Simpang Gaung Karam di Parit 21 Tembilahan
Kebakaran di Tembilahan Hulu Hanguskan 3 Unit Rumah dan 1 Rumah Rusak Parah
Tebing Ngarai Sianok di Bukittinggi Longsor Akibat Diguncang Gempa
Pasutri asal Pelalawan Kecelakaan Tunggal di Tol Pekanbaru-Dumai, 1 Luka
Remaja di Bekas Tewas Usai Dibacok Saat Tawuran Antar Kelompok
Dua Hari Pencaharian Dilakukan Tim Gabungan dan Sempat Dihentikan Malam Akhirnya Masyarakat Temukan Korban Tersangkut di Kerambah
Warga Heboh, Bola Api Muncul Terbang di Langit Pasca Pilkades Serentak
Seorang Perawat dan Pasien ODGJ Selamat dari Kebakaran RSUD Tembilahan
Rusak Kebun Sawit di Desa Betung, Kawanan Gajah Liar Kembali Berkonflik Dengan Warga
Tenggelam Usai Sampan Oleng, Anak Petani di Siak Ditemukan Meninggal
Butuh Jembatan, Pelajar SD di Enok Hanyut dan Tewas Bertepatan Hari Pendidikan Nasional
Hari ini Kebakaran Kembali Terjadi di Inhil, Berikut Daftar Nama Korbannya