Pilihan
AWG Kibarkan Bendera Indonesia-Palestina di Gunung Raung
Pulanglah, Ali…
BMKG Catat 39 Gempa Susulan di Banten
JAKARTA (INDOVIZKA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa susulan terus terjadi di wilayah Banten sejak diguncang lindu bermanitudo 6,6 pada Jumat (14/1). Hingga Minggu (16/1) subuh, tercatat sudah terjadi 39 gempa bumi di Banten.
"Hingga pagi ini pukul 04.00 WIB hasil monitoring BMKG terhadap gempa susulan dari gempa Ujung Kulon Magnitudo 6,6 menunjukkan telah terjadi 39 kali. Tampak tren frekuensi kejadian gempa susulan sudah meluruh," kata Koordinator Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono dikutip dari kun twitternya @DaryonoBMKG.
Hasil monitoring BMKG sehari sebelumnya menunjukkan telah terjadi 32 kali aktivitas gempa susulan (aftershock). Gempa susulan terjadi dengan magnitudo terbesar 5,7 dan magnitudo terkecil adalah 2,5. Dia menjelaskan, gempa Ujung Kulon kemarin bukan ancaman sesungguhnya. Karena segmen megathrust Selat Sunda mampu memicu gempa dengan magnitudo tertarget mencapai 8,7.
- Ketua Tim Jargas Sebut Kado Ultah ke-26 Pelalawan Dapat Tambahan Kuota 3.076 Jaringan Gas dari APBN
- Aktif Kembali Bumdes Jaya Bersama setelah Fakum Hampir 7 Tahun
- Wabup Husni Tamrin Hadiri Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Lancang Kuning 2025
- Pemerintah Kabupaten Pelalawan Melaksanakan Operasi Pasar Murah Jelang Idul Fitri 1446 H
- Pemkab Pelalawan Sediakan Bantuan Penyebrangan Roda Dua Gratis Melintasi Banjir Jalan Lintas Timur
"Dan ini dapat terjadi sewaktu-waktu, inilah ancaman yang sesungguhnya, kapan saja dapat terjadi," ujar dia dalam keterangannya, Sabtu (15/1).
Hal tersebut dikarenakan Selat Sunda ini merupakan salah satu zona seismic gap di Indonesia yang selama ratusan tahun belum terjadi gempa besar sehingga patut diwaspadai. Karena berada di antara 2 lokasi gempa besar yang merusak dan memicu tsunami yaitu Gempa Pangandaran magnitudo 7,7 (2006) dan Gempa Bengkulu magnitudo 8,5 (2007)
Berdasarkan catatan sejarah gempa dan tsunami, di wilayah Selat Sunda memang sering terjadi tsunami. Tsunami Selat Sunda pada tahun 1722, 1852, dan 1958 disebabkan oleh gempa. Tsunami tahun 416, 1883, 1928, 2018 berkaitan dengan erupsi Gunung Krakatau. Sedangkan, tsunami tahun 1851, 1883, dan 1889 dipicu aktivitas longsoran.
Gempa kuat dan tsunami merupakan proses alam yang tidak dapat dihentikan, bahkan memprediksi kapan terjadinya pun juga belum bisa. Namun dalam ketidakpastian kapan terjadinya sejumlah upaya mitigasi konkret dapat dilakukan.
"Seperti membangun bangunan tahan gempa, memodelkan bahaya gempa dan tsunami, kemudian menjadikan model ini sebagai acuan mitigasi, seperti perencanaan wilayah berbasis risiko gempa dan tsunami, menyiapkan jalur evakuasi, memasang rambu evakuasi, membangun tempat evakuasi, berlatih evakuasi/drill secara berkala, termasuk edukasi evakuasi mandiri di samping itu BMKG juga akan terus meningkatkan performa peringatan dini tsunami lebih cepat dan akurat," katanya.
.png)

Berita Lainnya
Narasi Anti-FPI, Pendukung Jokowi Diminta Tak Catut Gus Mus
22% Rakyat Indonesia Tidak Percaya Covid-19, Pemimpin Agama Diminta Turun Tangan
Pertamina Pastikan Toilet SPBU Bersih, Nyaman dan Gratis
BEM Nusantara akan Ajukan Judicial Review UU Cipta Kerja
Basarnas: Korban Jiwa Gempa Sulbar Jadi 49 Orang
Menaker: Buruh Bekerja di Hari Pemungutan Suara Berhak Dapat Upah Lembur
DPR Minta Kementan Jamin Ketersediaan Pupuk
Haji Dapat Dibatalkan Akibat Corona, Ini Kata Kemenag Riau
Kemendagri Ingatkan Kepala Daerah Segera Melantik Jabatan Fungsional
Menteri Basuki Perintahkan Perbaikan Tol Trans Sumatera Tuntas Akhir April 2022
Airlangga: Vaksinasi Covid-19 Bentuk Ikhtiar Pemerintah Menyelamatkan Masyarakat
13 Januari Presiden Disuntik Vaksin Covid-19 yang Disiarkan Secara Langsung