Pilihan
AWG Kibarkan Bendera Indonesia-Palestina di Gunung Raung
Pulanglah, Ali…
Moratorium Gambut, Izin Kilang Sagu di Kepulauan Meranti Terancam Dibekukan
SELATPANJANG - Izin seluruh kilang sagu di Kepulauan Meranti, Provinsi Riau terancam dibekukan, pasalnya rata-rata kilang sagu yang berada di kabupaten termuda di Provinsi Riau itu berada di kawasan gambut.
Dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2019 tentang Penghentian Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut, Presiden Jokowi memerintahkan jajarannya untuk menghentikan pemberian izin baru di hutan alam primer dan lahan gambut.
Penghentian bersifat sementara atau moratorium itu meliputi penghentian penerbitan hak-hak atas tanah baik berbentuk hak guna usaha (HGU) dan hak pakai pada areal penggunaan lain berdasarkan Peta Indikatif Penghentian Pemberian Izin Baru (PIPPIB).
- Banjir Setiap Tahun di Pelalawan, DPRD Riau Minta Pemerintah dan PLN Bertindak
- Pemprov Riau Diminta Serius Berantas Judi Online
- APBD 2025 Diisukan Defisit, Fraksi PKB: Tak Masalah Jika Demi Kepentingan Masyarakat
- Tabligh Akbar di Tembilahan, UAS Sampaikan Dukungan untuk Paslon Bermarwah dan Fermadani
- Targetkan Rampung Akhir November, DPRD Riau Percepat Pembahasan RAPBD 2025
"Lahan yang masuk PIPPIB di Kepulauan Meranti cukup luas sehingga bersinggungan dengan kegiatan strategis, bidang pemerintah sosial budaya dan ekonomi. Di bidang ekonomi contohnya ada 95 kilang sagu yang masuk kedalam PIPPIB ini sehingga untuk pemberian izin baru sudah tidak boleh lagi dan yang sudah telanjur pun untuk memperpanjang izinnya sudah tidak bisa lagi," kata Plt Kepala Bappeda Kepulauan Meranti, Aza Fachroni, Kamis (9/7/2020).
Untuk itu pihaknya meminta kepada kementerian terkait untuk mengevaluasi kembali dan mengkaji ulang di lapangan.
"Kita minta kementerian terkait harus objektif di lapangan dan membuat evaluasi serta mengkaji ulang dengan melakukan pemetaan di lapangan. Kami juga akan mulai menyusun pelepasan izinnya, istilahnya kita mengajukan agar lahan tersebut masuk kedalam Area Peruntukan Lain (APL)," ujar Aza.
Terkait hal ini pula, Bupati Kepulauan Meranti Drs H Irwan menemui langsung Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen LHK) Bambang Hendroyono, Rabu (8/7/2020) di Kantor Kementerian LHK RI di Jakarta
Dalam pertemuan itu, Bupati Irwan mengusulkan kepada Kemen LHK untuk mengeluarkan wilayah tersebut dari Penetapan Peta Indikatif Penghentian Pemberian Izin Baru (PIPPIB) Tahun 2020, dengan melihat kondisi eksisting wilayah Meranti yang sesungguhnya agar upaya Pemda dalam pengembangan wilayah tidak terkendala.
Dalam pertemuan itu, Bupati Irwan mengusulkan kepada Menteri LHK RI untuk mengeluarkan Wilayah Hutan tersebut dari PIPPIB dengan mempertimbangkan kondisi eksisting wilayah Kepulauan Meranti agar upaya pemerintah daerah dalam pengembangan wilayah tidak terkendala.
Dijelaskan Bupati Irwan, total luas kawasan hutan di Kabupaten Kepulauan Meranti adalah 260.654,32 hektar (71,67 %) dari total luas Kabupaten Kepulauan Meranti, sedangkan luas kawasan non hutan atau Areal Penggunaan Lain (APL) adalah 100.027,53 hektar (27,5 %). Dari Luas APL tersebut sebanyak 81.555,38 hektar termasuk ke dalam moratorium gambut (PIPPIB) tahun 2020.
Luas APL yang hanya bisa digunakan dan aman untuk pelaksanaan kegiatan pemerintah daerah hanya seluas 16.072,15 hektar saja atau sekitar 4.42 % dari total luas daratan Kabupaten Kepulauan Meranti.
"Dengan areal yang bisa dikelola hanya tinggal seluas 16.072,15 ha tersebut tentunya akan menyulitkan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti untuk melaksanakan pembangunan sebab jika hanya mengandalkan sektor hulu pertanian tanpa diikuti pengembangan industri hilir akan menyebabkan Meranti sebagai Kabupaten baru akan selalu tertinggal, termiskin dan terbelakang," pungkas Irwan.
Anggota Komisi I DPRD Kepulauan Meranti, Dr. M Tartib SH mengatakan saat ini di Kepulauan Meranti terlihat jelas di dalam Peta Indikatif Penundaan Izin Baru (PIPPIB) dipenuhi zona gambut dan zona hijau, sementara zona putih hanya tinggal 5 persen.
Terhadap kebijakan tersebut, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah ( DPRD) Kepulauan Meranti menilai investasi di kabupaten termuda di Provinsi Riau itu akan terganggu.
"Investasi di Meranti bakal terganggu dengan terbitnya Inpres No 5 tahun 2019. Apalagi dengan tersisanya zona putih hanya 5 persen. Kemungkinan ini ada kaitannya dengan program BRG," kata Tartib.
.png)

Berita Lainnya
Musorkab Dua Pekan Lagi, KONI Inhil Pilih Ketua Baru
2022, Pemko Pekanbaru Targetkan Air Bersih yang Langsung Bisa Diminum dari Keran
Santriwati Al Imtinan Kunjungi Kantor Diskominfopers Inhil
Satgas Covid-19: Banyak Pesta Pernikahan Abaikan Prokes
Fraksi PKS DPRD Pekanbaru Siap Potong Gaji untuk Korban Bencana Alam
5 Petak Rumah Kos di Jalan Arifin Achmad Terbakar
Ketua IWO Riau Tegaskan Komitmen Jadi Mitra Strategis Imigrasi dan Lapas
Sekda Minta BPR Pekanbaru Kejar Piutang Sebesar Rp2,3 Miliar
Judi Online Dinilai Jadi Ancaman Sosial-Ekonomi, PB HMI MPO Desak Menteri Terkait Mundur
Lepas Pawai Raya Idul Adha 1446 H, Bupati dan Wabup Serta Forkopimda Kampar Pukul Bedug Bersama
Kapemary Kampar Gelar Bukber di Rumah Ongah Reborn
Alasan Tugas Partai, Mantan Ketua DPRD Andi Putra Mangkir Dipanggil Jaksa