Pilihan
Menteri ESDM Heran Terjadi Kelangkaan BBM di Riau
PEKANBARU, (INDOVIZKA) - Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di Provinsi Riau, mendapat tanggapan Menteri ESDM, Arifin Tasrif. Menteri mengaku heran terjadi kelangkaan, padahal stok solar banyak. Selain itu, alokasi solar dari pusat sudah cukup.
" Saya nggak tahu kenapa sampai kekurangan. Padahal stok solar banyak. Apa bocor? Karena alokasinya dari pusat sudah cukup. Saya baru dengar ada kelangkaan, tidak ada langka-langka," kata Arifin di GBC PHR Sektor Minas, Kamis (14/10/2021).
Menteri ESDM mengatakan akan segera menindaklanjuti hal kekosongan solar di Riau. Sehingga masyarakat Riau tidak kesulitan mendapatkan pasokan BBM terutama jenis Solar.
- Banjir Setiap Tahun di Pelalawan, DPRD Riau Minta Pemerintah dan PLN Bertindak
- Pemprov Riau Diminta Serius Berantas Judi Online
- APBD 2025 Diisukan Defisit, Fraksi PKB: Tak Masalah Jika Demi Kepentingan Masyarakat
- Tabligh Akbar di Tembilahan, UAS Sampaikan Dukungan untuk Paslon Bermarwah dan Fermadani
- Targetkan Rampung Akhir November, DPRD Riau Percepat Pembahasan RAPBD 2025
Sebelumnya diberitakan terjadi kelangkaan bbm di Riau. Kelangkaan diduga akibat tingginya mobilitas masyarakat setelah diberlakukannya PPKM level 2 di Riau. Bahkan Pemprov Riau mengajukan penambahan kuota BBM pada BPH migas.**
.png)

Berita Lainnya
Golkar Desak Terbitkan PP Perlindungan WNI yang Jadi ABK
Riau Masuk 10 Besar Provinsi Paling Korup di Indonesia
Minggu Depan Ada Program Bikin SIM Gratis
Jokowi Sebut Istana Negara Akan Pindah ke IKN Baru Pada 2024
Kabur Bawa Senjata SS-2 V1 di Papua, Foto Prada Yotam Bugiangge Disebar
Pelatih NTB Protes dan Buat Keributan dalam Acara Pembagian Bonus PON Papua
Facebook Akuisisi Giphy Senilai Rp 6 Triliun
Erick Thohir Siap Kolaborasikan Program Ekonomi Syariah dengan PBNU
Gaji ke-13 PNS Cair Hari Ini
Usulan Calon Kapolri Diserahkan Mensesneg, DPR akan Panggil Listyo Sigit Pekan Depan
Riau Tidak Ada Peningkatan Kasus Covid-19 Sejak Presiden Bolehkan Buka Masker
Imbas Harga Gas Turun, PLN Hemat Rp18,58 Triliun